Densi1

BEKERJA SAMBIL BELAJAR

Catatan Ibu Densiana Mala

Latar  belakang pendidikan saya adalah sekolah menengah kejuruan di bidang pertanian. Tujuan awal saya melamar pekerjaan adalah sebagai karyawan di PT Cengkeh Malanuza milik Keuskupan Agung Ende yang berlokasi di Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Provinsi NTT. Kurang lebih setahun saya bekerja di PT Cengkeh. Dalam perjalanan waktu, kesehatan saya terganggu sehingga saya tidak bisa untuk selalu berada di lapangan. Lalu saya dipindahtugaskan ke Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Mataloko yang juga menjadi milik Keuskupan Agung Ende.

Seminari ini merupakan lembaga pendidikan khusus tingkat menengah untuk para siswa calon imam Katolik (seminaris). Di dalam lembaga  ini ada dua sekolah berasrama untuk SMP dan SMA. Semua seminaris yang dididik di kedua jenjang sekolah ini terdiri dari laki-laki saja. Dalam kehidupan berasrama para seminaris didampingi oleh para imam Katolik. Sedangkan di sekolah ada sejumlah tenaga pendidik dan tenaga kependidikan non imam (awam), baik guru negeri maupun guru swasta. Ada yang laki-laki dan ada juga guru-guru perempuan. Para imam Katolik yang menjadi pembina di asrama juga menjadi guru sesuai dengan kompetensi masing-masing. 

Nama saya Densiana Deu Mala yang biasa disapa Densi. Pada saat itu kepada saya ditawarkan dua pilihan, yaitu sebagai tenaga kependidikan di perpustakaan dan di laboratorium. Akhirnya saya lebih memilih perpustakaan karena saya suka baca novel. Jadi sejak tahun 1994 saya menjadi pustakawati di perpustakaan Seminari Mataloko dan menangani urusan buku yang berkaitan dengan kebutuhan para siswa dan guru SMP.

 

Awal mula bekerja di perpustakaan saya merasa bingung mau memulai dari mana, karena saya belum mengenal sistem yang harus digunakan supaya buku-buku yang ada di perpustakaan dapat dipinjamkan. Namun kebingungan itu tidak bertahan lama karena saat itu sudah ada pegawai senior bernama Ibu Lis yang sudah lebih dahulu bekerja di perpustakaan itu. Saya banyak belajar dari beliau, dan  juga dari buku-buku bacaan tentang bagaimana mengelola perpustakaan sekolah.

 Kedatangan  Romo Nani Songkares, Pr. , seorang imam Katolik sekaligus guru bahasa Inggris pada tahun 1998, telah membawa angin segar untuk kami staf perpustakaan. Dia dipercayakan menjadi kepala perpustakaan selain juga menjadi salah satu pembina bagi para seminaris dalam kehidupan berasrama. Sebagai kepala perpustakaan dia menjalin kerja sama dengan perpustakaan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero di Maumere Flores. Dia mendatangkan pengelola perpustakaan Seminari Tinggi  Ledalero yaitu Bapak Stefanus Meo, yang sudah ahli dalam mengelola perpustakaan. Kami diberi pelatihan mengelola perpustakaan dengan menggunakan sistem Dewey Decimal Classification, sebuah sistem pengelolaan yang masih digunakan sampai saat ini. Setelah pelatihan itu, saya baru menyadari bahwa bila bekerja di perpustakaan harus membiasakan diri untuk membuka dan membaca buku. Tidak harus semua halaman, tetapi paling kurang daftar isi atau sinopsisnya agar dapat menentukan tema buku yang akan ditempatkan di rak buku sesuai sistemnya. Jadi ribuan buku yang dikoleksi oleh perpustakaan ini harus kami cermati. Dengan demikian, jika ditanya oleh para pengguna perpustakaan  yang membutuhkan sumber bacaan sesuai keinginannya, maka dengan mudah kami dapat menemukan buku yang dimaksud.

Dalam pemikiran sebagian orang, yang bekerja di perpustakaan adalah orang buangan yang tidak mampu bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Dalam pemikiran mereka, kerja di perpustakaan berarti hari-hari pikul buku, susun buku dan lain lain yang tentu akan membosankan. Tetapi bagi saya pribadi, bekerja di perpustakaan adalah hal yang luar biasa dan membanggakan, karena setiap hari saya bekerja sambil belajar secara gratis. Di sela jam kerja pasti ada waktu kosong yang selalu saya gunakan untuk membaca buku walau tidak sampai tuntas. Selalu ada hal-hal baru yang saya dapatkan dari buku. Dan saya merasakan bahwa buku adalah guru yang paling istiwewa, yang mengajarkan banyak hal sesuai apa yang saya inginkan.

Pada tahun 2011, saya diberi kesempatan oleh pimpinan lembaga pendidikan ini untuk kuliah jurusan perpustakaan. Sekolah  menyadari bahwa salah satu poin penilaian dalam akreditasi sekolah adalah keberadaan tenaga perpustakaan yang berkualifikasi diploma perpustakaan. Saya sangat antusias dan senang sekali karena Komite sekolah menyanggupi untuk menanggung sebagian dari biaya kuliah saya. Universitas Terbuka menjadi pilihan saya untuk kuliah, sehingga tugas utama di perpustakaan tidak terabaikan. Dalam menjalani proses perkuliahan saya mendapat banyak kemudahan dalam belajar. Ada beberapa modul mata kuliah yang tidak bisa saya dapatkan. Namun buku-buku di perpustakaan Seminari masih bisa menjadi sumber pengganti modul-modul tersebut. 

Kehadiran para imam Katolik sebagai pembina seminari dengan berbagai kompetensi keilmuan yang mereka miliki sungguh sangat memperperkaya saya dalam banyak hal selama keberadaan saya di lembaga ini.. Saya yang dulunya sangat tidak peduli dengan disiplin menjadi sadar bahwa disipilin itu adalah harga mati karena hanya dengan disiplin saya bisa berubah menjadi lebih baik. Memulai dari diri sendiri, memulai dari hal yang kecil, memulai dari sekarang dan tidak menunda. Selain itu, keberadaan guru-guru awam senior telah banyak mengajarkan kepada saya, bagaimana harus bekerja dengan hati bagi para siswa seminari karena merekalah calon imam dan penerus masa depan gereja Katolik dan bangsa Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, tidak terasa sudah 30 tahun saya bekerja sebagai pegawai perpustakaan Seminari Mataloko. Saya sering mendapat pertanyaan demikian, “Ibu Densi masih betah juga kerja di seminari?”  “Untuk apa ke tempat lain? Karena bagi saya, Seminari adalah rumah  kedua setelah rumah orang tua.” Demikian jawabanku. Ada lagi pertanyaan lain, “Ibu Densi tidak banyak berubah sejak kami masih sekolah di Seminari sampai sekarang.” Saya balik bertanya apa maksudnya. “Maksudnya wajah ibu tidak banyak berubah,” jawab mereka. Sambil tersenyum saya menjawab. “Jangan pura-pura tuh supaya  membuat ibu senang sesaat. Memang ibu sangat menikmati pekerjaan  ini karena sambil bekerja ibu juga belajar.”

Sebagai orang yang sudah dipercayakan sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, saya berusaha untuk selalu bekerja dengan hati. Kalau kita benar bekerja dengan hati kita akan menemukan kebahagiaan dan kepuasan batin, sehingga seberat apapun tantangan dalam mengemban tugas pasti bisa kita lewati.

Saya berusaha jalin relasi yang baik dengan rekan kerja karena saya percaya, hubungan antar pribadi adalah perpustakaan hidup tempat kita menjadi dewasa. Tanpa tantangan dan rangsangan serta interaksi kita dengan sesama, kepribadian kita tidak berkembang dan berubah (Penulis adalah Pustakawati SMPS Seminari Mataloko)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Tags: No tags

Comments are closed.