Kamar Mandi, Memupuk Kemandirian dan Kebersamaan

Jurnalisme Siswa

Kamar Mandi, Memupuk

Kemandirian dan Kebersamaan

Kebersamaan dan kemandirian dapat manusia pupuk dalam berbagai aktivitas dan tempat, termasuk di kamar mandi.

SMP Seminari Ma­taloko mem­punyai Ka­m­ar mandi yang besar dan lebar sebab me­miliki siswa yang ba­nyak. Kamar mandi ini terletak  di  samping k­a­­­­­­­­­­­­­­mar lama Rm. A­lex­ander Dae Laba se­laku pe­­­­­­­mbina.  Rm ini bi­a­sanya mengurus air di ka­mar mandi. Ia me­latih kami untuk ber­hemat.

Di kamar mandi SMP, para seminaris me­laku­kan banyak kegi­at­an. Me­­­­­­reka  mencuci pakai­an, mandi, dan membagi ce­rita. Semua kegiatan itu, dilakukan pada wak­­tunya.   Me­­n­cu­ci pa­­­k­a­i­an juga ada wa­k­tu­nya, yakni setiap hari Rabu, Sabtu, dan Ming­gu. Hari-hari ini p­un dibagi lagi. Kelas VII setiap hari Rabu si­ang saat tidur siang, se­dang­kan hari Sabtu siang untuk kelas VIII dan kelas IX. Hari Minggu berlaku umum un­tuk  semua siswa SMP. Pada hari Minggu, bi­asanya men­cuci pa­kaian setelah studi pagi. Pada hari-ha­ri inilah para semi­naris berlatih man­diri dan me­­mupuk kebersa­maan atau tali persau­dara­an.

Pada hari Rabu siang dan Sabtu siang para seminaris harus mencuci dalam keadaan diam, sebab itulah wa­ktu he­ning (sillentium). Para se­mina­ris yang mencuci pa­kaian haruslah men­jaga kebersihan. Mereka di­la­rang bu­ang sam­­pah di­­ sem­ba­rang tem­pat, se­perti got-got se­bab dapat mengakibat­kan sa­­luran tersumbat se­hingga air akan melu­ap. Ge­nangan air dapat men­­jadi sarang jen­tik nya­muk dan me­nim­bulkan aroma yang tidak enak.

Pada saat mencuci pa­ra seminaris dilarang mem­­bawa sa­bun ke da­lam toilet. Apa lagi men­­­jatuhnya ke dalam kloset. Tindakan itu me­nyum­bat saluran kloset. Se­lesai men­­­­­­­­­cuci pa­ka­ian, para seminaris men­jemurnya di je­muran, di samping unit C. Jika je­muran pen­uh, para se­minaris dapat me­njemur pakaian di depan kamar tidur. Ka­mar jemur di­bagi dalam 3 tempat, yaitu di sa­mping unit C, di bela­kang aula, dan di sam­ping kamar yang lama.

Selain men­cuci pa­kai­an, ka­mar mandi juga menjadi te­mpat mandi. Para seminaris dilarang ribut saat mandi agar cepat selesai dan tidak memboroskan air. Na­mun, kebanyakan se­mi­naris me­langgarnya. Pa­da wa­k­tu itulah para seminaris membagikan peng­ala­ma­nnya.

Selain itu, pada saat ma­n­­di sem­inaris dila­rang mem­b­u­ang sa­mpah di sem­ba­rang te­mpat, khu­s­usnya dalam bak mandi. Se­minaris harus men­jaga ke­ber­sihan ka­mar man­di karena ka­mar ma­ndi adalah tem­pat  yang selalu di­kun­jung oleh se­mi­naris.

Kamar m­a­­ndi memi­liki 2 deret  bak be­­sar untuk ke­perluan cuci dan man­di para se­mi­na­ris. Para seminaris ju­ga mem­punyai ke­wajib­an un­tuk mem­bersihkan ka­­­­­­mar ma­­ndi dan toilet. Namun, bukan semua se­minaris me­m­bersih­kan­­nya. Ada kelompok yang diperca­yakan un­tuk mem­ber­sih­­kannya. Kelompok u­ta­­ma yang mem­ber­sih­kan kamar mandi ia­lah seksi toilet.  Me­reka mem­­ber­sih­kan­nya se­tiap hari Rabu dan Sab­tu se­telah bangun ti­dur. Ta­hap awal yang me­reka la­­kukan adalah me­nyi­ram lantai de­ngan a­ir, la­­lu me­nyikat lantai sam­­pai bersih. Semua pe­­­ker­j­a­­an ini se­lesai pu­kul 15.45. Sebagai­ma­na bia­sa, keadaan ka­mar wc dan ka­mar m­andi tam­­pak sangat ber­sih. Se­mua ini di­lakukan siswa di kamar man­­di se­cara bersama. Se­mi­naris gem­bira ka­re­na pe­ker­ja­an ini dila­ku­kan  ba­­gi ke­­pentingan ber­sa­­ma.

Rino Nanga

Kelas VIII A

Rekoleksi: Momen Pembaharuan Komitmen

Rekoleksi: Momen Pembaharuan Komitmen

Jelang Perayaan Puncak Dies Natalis ke-89

 

Tiga hari menjelang perayaan puncak Dies Natalis ke-89, Seminari Mataloko  menyelenggarakan rekoleksi komunitas (12/09/2018). Rekoleksi menjadi momen yang istimewa bagi segenap anggota komunitas guna memaknai hari-hari persiapan menjelang perayaan puncak 15 September mendatang.

Ketua Panitia Pesfam 2018, RD. Beny Lalo dalam kata pengantarnya, menyebutkan bahwa rekoleksi bukan sekadar menjadi bagian dari rangkaian perayaan Pesfam (Pesta famili) melainkan lebih dari pada itu, menjadi hari yang istimewa untuk merenungkan tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota komunitas “Dari sekian banyaknya  hari yang kita habiskan untuk pertandingan dan perlombaan, hari ini menjadi hari yang spesial bagi kita untuk bermenung sepanjang hari,” tegasnya.

Kegiatan rekoleksi diawali dengan adorasi bergilir  dari beberapa kelompok kelas yang dimulai dari pukul 06.30. Di sela-sela adorasi, pada pukul 08.00-09.15, semua anggota komunitas yang terdiri atas para imam, suster, frater, guru dan pegawai serta seminaris SMP dan SMA mengikuti renungan dan sharing yang dibawakan oleh Romo Praeses, RD. Gabriel Idrus di Kapela St. Alfonsus Maria de Liguori, Kapela SMA Seminari.

Adapun RD. Idrus pada tahun ini merayakan Perak, 25 tahun Imamatnya. Momen Dies Natalis ke-89 pada tahun ini menjadi kian semarak lantaran adanya perayaan perak imamat Romo Praeses. Rekoleksi pada hari ini bernaung di bawah tema umum Pesfam 2018 yakni “Menabur kasih menuai panggilan”.

Napak Tilas Panggilan Sang Gembala

Romo Idrus mengawali rekoleksi dengan mencoba kembali bernapak tilas, melihat ke masa-masa awal ketika panggilan hidup menjadi imam mulai bertumbuh. “Keinginan untuk menjadi imam hanyalah keinginan kecil dari sekian banyak keinginan yang ada ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar,” demikian Romo Idrus mengawali kisahnya.

“Keinginan itu tumbuh tatkala menyaksikan pastor Paroki Lela dan pastor misionaris Belanda lainnya duduk bersama di pastoran Paroki Lela. Selain itu, kontak dengan imam pribumi dan kehadiran Para Frater dari Ritapiret dan Ledalero juga membangkitkan rasa senang saya terhadap mereka. Kehadiran para Frater menjadi kesempatan bagi kami yang masih kanak-kanak untuk menyaksikan orang-orang hebat di lapangan bola kaki, lapangan bola voli dan basket. Selain itu, keterampilan memainkan drama dan alat musik menjadi daya tarik tersendiri bagi saya yang pada saat itu masih kecil. Akan tetapi, setelah menamatkan pendidikan SD saya berniat untuk melanjutkan pendidikan di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) selain karena belum ada niat masuk seminari juga karena sang ayah tidak setuju karena sebagaimana pendapat umum, sekolah di seminari itu mahal. Namun, karena didesak oleh Wakil Kepala Sekolah, bapak mengiyakan saya untuk masuk seminari.”

Begitulah awal kisah panggilan Sang Gembala ketika mulai memasuki kehidupan sebagai seorang seminaris. Dalam refleksinya, Romo Idrus menginsafi bahwa sesungguhnya keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar di awal panggilannya. Jawaban yang sederhana itu ternyata mempunyai konsekuensi yang besar bagi dirinya pribadi dan bagi keluarganya. Banyak hal yang berubah ketika ia mulai masuk ke seminari dan ketika ia perlahan-lahan mulai menapaki ziarah sebagai orang yang terpanggil hingga menjadi seorang gembala yang telah berziarah selama 25 tahun dalam tapak Imamat.

Panggilan Imamat sebagai Rahmat dan Tanda Keselamatan

Imamat bagi Romo Idrus pertama-tama adalah rahmat Allah yang menyelamatkan bahwasannya, cara keselamatan Allah telah lama dimulai dalam dirinya dengan segala keberadaannya sebagai seorang manusia. Merefkleksikan keselamatan Allah yang telah lama dimulai ini, Romo Idrus mengambil inspirasi dari sosok Nabi Yeremia. Seperti Allah mengenal Yeremia dengan segala keberadaan dirinya bahkan sejak Yeremia berada dalam kandungan ibunya dan dalamnya karya keselamatan Allah terlaksana, demikianpun cara keselamatan Allah telah lama dimulai dalam diri Romo Idrus. Keselamatan Allah nyata dalam diri pribadi yang terpanggil.

“Bagi seorang imam, imamat sebagai rahmat yang menyelamatkan bukan hanya tejadi dalam diri orang yang dilayani melainkan pertama-tama terjadi dalam dirinya sebagai orang yang terpanggil. Sebab bagaimana mungkin ia dapat menghayati tritugas panggilan Kristus sebagai imam, nabi dan raja kalau ia tidak merasa ada rahmat keselamatan dalam panggilan hidupnya. Kesadaran akan rahmat Allah yang menyelamatkan terasa nyata dalam panggilan saya sebagai imam dan bahkan rahmat itu menjadi nyata dalam pengalaman dilematis.”

Imam kelahiran 24 Maret 1965 ini menambahkan bahwa rahmat Allah bekerja di saat-saat yang tepat dan rahmat itulah yang membawa keselamatan bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang dilayaninya. Karena itu, dalam tugas pengabdiannya sebagai seorang gembala, ia mempunyai prinsip yakni menempatkan karya pelayanan imamat di atas kepentingan keluarga. Menjadi imam berarti menjadi pribadi yang lepas bebas dari berbagai ikatan. Prinsip inilah yang selalu dipegang teguh ketika ia berhadapan dengan pengalaman dilematis yang memaksanya untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Romo Idrus percaya bahwa ketika menjadi pribadi yang lepas bebas, maka ia akan mendapatkan banyak saudara seperti sabda Tuhan dalam Injil. Pengalamanan pengembaraan 25 tahun imamat sudah menunjukkan bahwa Sabda Tuhan dalam Kitab Suci itu hidup, nyata dan berdaya guna “Tuhan selalu punya cara dan bahkan di saat-saat yang sulit dan tak ada harapan sekalipun, sabda Tuhan menjadi nyata,” demikian imam yang mengambil moto imamat dari Sir. 42:15 ini melanjutkan refleksi imamatnya.

Bertahan dalam Pelayanan Kasih

Imamat menurut RD. Idrus adalah jabatan dan profesi yang mengedepankan pelayanan kasih. Dengan ini hendak ditunjukkan wajah personal dan sosial dari sebuah karya pelayanan. Ketika merayakan Kurban Ekaristi dan sakramen serta hadir dalam karya pelayanan kasih, imam hadir dalam dua wajah yaitu personal dan sosial. Karya pelayanan inilah yang dihidupinya dalam hidup imamatnya.

Lebih lanjut, Romo Idrus membagikan tiga hal pokok yang membuatnya setia dan bertahan selama 25 tahun dalam hidup imamatnya. “Seandainya ditanya, apa yang membuat saya setia dan bertahan hingga usia perak ini, maka saya akan menjawab, pertama-tama adalah selalu berusaha membangun hidup rohani yang baik melalui doa, ibadat dan Ekaristi. Lalai dalam melaksanakan hal ini akan menimbulkan rasa cemas dari dalam diri dan saya bersyukur atas rasa cemas yang kudus ini. Kedua, kesadaran akan keseimbangan antara ora et labora. Doa dan bekerja bagi saya adalah mata rantai yang mengikat imamat. Kata Aristoteles, musuh kehidupan rohani yang baik adalah terlalu banyak melakukan sesuatu. Jika saya hanya bekerja dan lupa berdoa, atau menggantikan doa dengan kerja, apa bedanya saya yang imam dengan para pekerja sosial. Ketiga, selain karena kekuatan Allah, saya juga percaya pada kekuatan manusia yang adalah sahabat dan rekan kerja saya. Saya percaya bahwa masing-masing orang adalah pribadi yang unik dan karena itu, saya selalu berusaha sedapat mungkin menghindari kerja sendiri dan lebih mementingkan kerja tim.”

Sebagai seorang imam, Romo Idrus berusaha untuk menghidupi spritualitas hidup Yesus sendiri yang selalu menyeimbangkan antara doa dan bekerja. Bekerja keras tidak boleh sampai melupakan doa demikianpun sebaliknya, doa yang tekun jangan sampai mengabaikan waktu kerja. Doa dan bekerja harus berjalan seimbang. Itulah perisai yang menjaga tubuh imamat tetap bertahan hingga seperempat abad ini.

Menabur Kasih, Menuai Panggilan

Di akhir rekoleksinya, Romo Gabriel Idrus mencoba merefleksikan tema Pesfam 2018, Menabur kasih Menuai Panggilan. “Jika yang menabur kasih di tempat ini adalah para pembina, guru dan pegawai maka yang menuai panggilan pada akhirnya adalah orang tua, masyarakat dan Gereja. Bagi saya, yang menabur kasih dan yang menuai panggilan adalah kita semua yang dengan caranya masing-masing turut memberi warna pada setiap proses formasi yang ada di Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko ini,” demikian katanya.

Ada beberapa refleksi sederhana yang kiranya diberikan seandainya yang dimaksudkan dengan penabur dan penuai adalah semua anggota komunitas Seminari Mataloko. Pertama, Semua anggota komunitas harus aktif dan bukan menjadi pribadi yang pasif. Itu berarti adalah tidak ada komponen yang lebih tinggi dari yang lain. masing-masing orang menabur dengan penuh tanggung jawab sehingga produk yang dihasilkan betul-betul bermutu dan pada akhirnya, banyak orang yang mencarinya.

Jika Proses formasi di seminari Mataloko adalah proses menabur maka produk yang bermutu harus dapat dihasilkan pada tahun-tahun mendatang sebab wajah Gereja 30/40 tahun mendatang berada di pundak-pundak semua komponen baik sebagai  formator maupun formandi. Untuk itu perlu ada rasa optimisme yang tinggi bahwasannya, masing-masing pihak adalah pribadi yang besar untuk sebuah karya besar bukan sebaliknya merasa diri kecil dan tidak layak untuk sebuah karya besar. Karena itu, menabur kasih, menuai panggilan tidak akan berarti jika tidak ada kesungguhan dan tanggung jawab serta rasa sakit dan bahkan korban nyawa seperti Yesus yang telah mengorbankan nyawanya.

Kasih Yesus dalam karya pelayanan mestinya menjadi contoh kasih yang kita tabur, sebab, kataNya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.” Setiap anggota komunitas diajak untuk mencari kasih yang sempurna dalam pengalaman hidupnya masing-masing.

Hening dalam Doa dan Refleksi

Rekoleksi yang berlangsung sepanjang hari ini diwarnai dengan suasana hening. Seminaris diundang untuk berdiam dalam doa dan refleksi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Doa menyadarkan seminaris untuk menyadari hakikat panggilannya sebagai pribadi pendoa sementara refleksi menjadikan mereka pribadi yang bijak dengan melihat diri dan pengalaman hidupnya. Staf Liturgi OSIS membagi kelompok kecil untuk kemudian beradorasi secara bergilir hingga pukul 18.00. Seluruh rangkaian rekoleksi pada hari ini ditutup dengan adorasi bersama di Kapela SMA Seminari. Adorasi penutupan dipimpin oleh RD Bene Baghi.

Akhirnya, suasana khusuk dalam doa memampukan seminaris dan para formator guna menelusuri pengalaman hidup masing-masing dalam melaksanakan tema menabur kasih, menuai panggilan. Pasca adorasi penutupan, rutinitas harian seminaris kembali berlangsung seperti biasa.

Fr. Deni Galus, SVD

RATUSAN SISWA IKUTI TESTING MASUK SEMINARI

Ratusan siswa SD di Kabupaten Ngada dan Nagekeo mengikuti testing masuk seminari hari Jumat-Sabtu (16-17/3/2018) di SMP seminari. Kegiatan rutin tahunan tersebut terbagi dalam dua sesi, yakni tes wawancara dan tes tertulis, masing-masingnya berlangsung sehari.

“Kita patut bersyukur pada Tuhan karena dari tahun ke tahun banyak anak terpanggil untuk menjadi imam. Motivasi panggilan akan terus dimurnikan melalui proses pendidikan di seminari. Terima kasih karena orangtua masih mempercayakan anak-anak kepada kami untuk dididik di sini”, kata Rm. Benediktus Lalo, Pr, ketua Panitia Penyelenggara Testing, ketika memberikan pengarahan awal hari pertama.

Kurikulum Seminari

Dalam pengarahan tersebut Rm. Beny menggambarkan secara umum kurikulum seminari yang berintikan lima S (sanctitas, scientia, sapientia, sanitas, socialitas) yang telah dikembangkan sejak awal berdirinya, dan karena itu tahan uji. “Di tengah kekacauan orientasi moral yang melanda masyarakat kita, di seminari kita tetap menjalankan pendidikan hati nurani. Itulah sapientia”, ujarnya, menjelaskan salah satu dari lima S tersebut.

Kurikulum tersebut terejawantah dalam aturan harian yang menata kehidupan seminaris dari waktu ke waktu, mulai bangun pagi pukul 4.30 sampai tidur malam jam 21.30.  “Setiap detik dimanfaatkan untuk proses pendidikan”, katanya. Dengan demikian masing-masing kegiatan ada waktunya. “Termasuk ada waktu untuk keheningan. Pagi hari setelah Misa, kalian harus melakukan berbagai aktivitas dalam keheningan. Bisa?”, tanyanya kepada peserta testing, yang segera dijawab lengkingan penuh semangat, “Bisaaa!” “Juga ada waktu untuk kerja tangan, untuk  bekerja di kebun. Bisa?” “Bisaaa!!”

Opus Manuale

Sehubungan dengan kerja tangan, di Englishroom seminari, Rm. Beny lebih jauh menjelaskan, tanah adalah salah satu unsur penting pendidikan. “Anak harus bersentuhan dengan tanah, karena dari tanah anak belajar nilai-nilai”, katanya, sambil menyebutkan ungkapan opus manuale – kerja tangan – , sebuah konsep tua, yang terasa makin redup dalam proses pendidikan kita. “Bukan kerja tangannya yang menjadi fokus, tetapi semangat yang bisa ditimba dari situ, yakni pengorbanan, kerendahan hati, kerja keras, tanggungjawab, yang bisa siswa dapatkan saat berkontak dengan tanah”.

Pendidikan Karakter yang Kental

Dari beberapa wawancara yang dilakukan bersama orangtua siswa di hari kedua, terungkap kepercayaan terhadap seminari Mataloko bukan tanpa alasan. Pembentukan karakter menjadi salah satu penggerak utama mereka. “Orang pintar banyak, tetapi orang pintar dengan karakter yang bagus jarang. Karena itu pendidikan karakter sangatlah dibutuhkan,” kata Benediktus Naru, orangtua salah seorang siswa peserta testing. Dia mengapresiasi pendidikan karakter yang berlandaskan lima S di seminari. “Mudah-mudahan anak saya berkembang dengan matang di sini”, harapnya. Hal senada disampaikan Dius Taso, orangtua siswa asal Mbay. ”Sebagai orangtua saya bertanggungjawab terhadap perkembangan kepribadian anak. Saya berharap pilihan menyekolahkan anak di sini tepat”, katanya.

Ditemui di sela-sela testing, Rm. Beny mengucapkan terima kasih kepada para orang tua siswa dan para pastor paroki. “Sentuhan motivasi sudah dilakukan di keluarga-keluarga dan juga oleh para imam. Banyak siswa tertarik masuk seminari karena dorongan dan keteladanan para imam di lapangan” tandasnya.

Pada hari pertama peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk sesi wawancara. Pada hari kedua dilaksanakan tes tertulis dengan 3 mata uji yakni berpikir verbal, baris bilangan, dan kosa-kata. Untuk peserta SMP calon KPB (Kelas Persiapan Bawah) ditambahkan bahasa Inggris (Kontributor: Mario Degho. Editor: Nani).

MERIAH PENCANANGAN HARI ALUMNI DAN PELUNCURAN WEBSITE SEMINARI

            Pencanangan Hari Alumni dan peluncuran website resmi Seminari oleh Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, Rm. Gabriel Idrus, Pr,  di aula rekreasi, pada Minggu (11/3/2018) berlangsung meriah. Diapiti puluhan alumni perwakilan berbagai angkatan, dengan iringan bunyi sirene, Rm. Idrus menabuh gong pencanangan Hari Alumni dan peluncuran website tersebut. Tepuk tangan dan sorak sorai seluruh civitas academica Seminari menggemuruh di aula yang dahulu digunakan sebagai kamar tidur siswa itu.

Hadir pada kegiatan tersebut para alumni senior seperti Soter Parera, Frans Mola, Gius Pello, Bas Wea, Johny Watu, Sensi Sengga, Rm. Daniel Aka, Pr, dan sejumlah alumni medior dan junior lainnya, yang membaur bersama para formator, guru dan siswa.  Mans Mari yang membantu design dan pengerjaan website hadir bersama istri dan kedua buah hatinya.

Bangun Kekuatan Bersama Menuju Satu Abad Seminari

Dalam sambutannya Rm. Idrus menjelaskan, penetapan Hari Alumni jatuh pada tanggal 13 Maret, hari lahir santo Yohanes Berchmans, pelindung seminari. “Pencanangannya hari ini, 11 Maret, karena merupakan hari Minggu. Namun ke depan, Hari Alumni dilakukan setiap tanggal 13 Maret, apapun harinya”, tegasnya.

Penetapan Hari Alumni mempunyai narasinya. Bermula dari bisik-bisik di kalangan alumni dari waktu ke waktu, lalu menggema semakin kuat ketika kapela SMP yang menjadi ikon seminari direnovasi dan diresmikan 13 Maret 2017 lalu. Gagasan itu ditanggapi serius oleh para formator, yang memutuskan pencanangan Hari Alumni 11 Maret ini.

Rm. Idrus melanjutkan, Hari Alumni dirasa perlu karena berbagai alasan. Selain kesempatan bernostalgia dan membaca realitas seminari saat ini, “Hari Alumni adalah kesempatan kita membangun mimpi bersama ke depan, dalam kerangka Grand Design Menuju Satu Abad Seminari, yang dipetakan dalam lima bidang sekaligus, yakni: bidang Manajemen Mutu Pendidikan, bidang Sarana dan Prasarana, bidang Pengolahan Aset dan Usaha Produktif, bidang Penataan Lingkungan, dan bidang Penggalangan Dana. Kalau kekuatan itu kita bangun bersama, kita yakin pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita”.

Keyakinan tersebut, lanjut alumnus seminari 1982/1983 -1984/1985 itu, bukan tanpa dasar. “Sudah muncul berbagai gerakan alumni, mulai dari alumni se-Jabodetabek, komunitas-komunitas alumni dari masing-masing angkatan yang menyumbang dengan masing-masing cara melalui komunikasi dalam media-media sosial, sampai gerakan perorangan, seperti yang dilakukan Bapak Agus Dhae yang membantu olah musik vokal, dan, hari ini, Bapak Mans Mari yang membantu design website kita”.

Tentang peluncuran website seminari, imam kelahiran 24 Maret 1965 itu menyebutkan, hadirnya website memenuhi kerinduan seminari akan adanya dokumentasi yang bisa disimpan dan diakses kembali, seraya mengisahkan pengalaman getirnya  berkenaan dengan dokumentasi perayaan 75 tahun seminari tahun 2004 lalu yang nyaris tak berbekas.

Ia mengucapkan terima kasih atas pengorbanan dan kerja keras Mans Mari dan  teman-teman untuk menyiapkan website seminari. Ia menyebutkan beberapa karakter khas website tersebut, seperti kemudahan mengakses melalui aplikasi android, keterkaitan utuh lembaga sekolah dan seminari, adanya terjemahan dalam bahasa-bahasa dunia, termasuk bahasa Latin, kemudahan pendaftaran alumni dan lamaran siswa baru. “Tahun ini kita merayakan Hari Alumni dengan peluncuran website sebagai kegiatan unggulan. Setiap tahun kita harus bisa menentukan kegiatan unggulan dalam perayaan Hari Alumni”, tegasnya, sebelum menyampaikan terima kasih pada alumni yang hadir.

Berbagi Pengalaman

Pada kesempatan tersebut beberapa alumni berkenan berbagi pengalamannya selama dididik di seminari. “Saya bahagia sekali seminari telah membekali saya sekian sehingga saya banyak mengalami kemudahan belajar dan bekerja”, ujar Soter Parera, yang menyelesaikan masternya di Amerika. “Seminari membekali orang dengan basis ilmu dan moral yang kuat”, kata Frans Mola di akhir syeringnya. “Kalau Obama mengatakan Together we can dan disambut rakyat Amerika, Yes, we can, kita pun sangat mampu menggalang kekuatan bersama”, kata Gius Pello, bintang sepakbola seminari tahun 1960-an. “Kita sangat bisa bersaing”, ungkap Armin Dhae, alumnus angkatan 1992-1998. “Berbagai keterampilan yang saya dapatkan adalah hasil didikan seminari”, tegas Agus Dhae.

Alumni lainnya seperti Sensi Sengga, Stanis Kesu, dan Rm. Daniel Aka, Pr, menyajikan kisah-kisah yang tak kalah menarik, juga konyol dan lucu: tentang sandal lili yang lebih berharga dari sandal jepit, tentang bolos yang “kudus” dan pertanyaan berapa banyak tikungan di jalan, atau tentang naik traktor kebanggaan. “Why not the best? Itu pertanyaan yang membangun suasana penuh persaingan saat ini. Kita berfokus pada proses pendidikan yang membuat semua siswa kita bertumbuh”, kata Rm. Dani di akhir syeringnya.

Mans Mari membingkai syeringnya dengan sebuah refleksi menarik tentang berbagai pembatasan yang dialaminya di seminari. “Ketika banyak orang di luar diberi kebebasan melakukan dan mengakses berbagai hal, pembatasan di seminari sering dianggap kemunduran. Tapi bagi saya, kalau kita hendak melompat sejauh mungkin, kita harus mundur jauh sekali. Kalau kita ingin membangun gedung yang tinggi, kita harus menanam dasar sedalam-dalamnya. Kalau kita ingin berkembang tanpa batas, kita harus tahu batas. Pembatasan itu penting sekali, karena punya daya dobrak yang luas”, katanya seraya berbagi pengalaman mengembangkan diri dan melayani dalam dunia digital yang tak terbatas.

Rm. Praeses menutup seluruh perbincangan dengan penyampaian mengenai pembangunan asrama SMP. “Pertengahan Juni 2018 ini gedung utama asrama akan dibongkar, lalu dibangun baru berlantai dua. Kita berharap dalam satu tahun bangunan itu selesai”, ujarnya (Nani).

SISWA SEMINARI LIVE IN DI TIGA LOKASI

         Siswa seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko melaksanakan live in di tiga lokasi, yakni Jerebuu untuk para siswa yang tergabung dalam kelompok etnis PERSIBA (Persatuan Seminaris Asal Bajawa), Moni untuk kelompok etnis GASSELI (Gabungan Seminaris Asal Ende-Lio), dan Boawae untuk kelompok etnis TARSANTO (Tergabungnya Seminaris Asal Nagekeo-Toto), pada Kamis-Minggu (15-17/06/2017).

            Kegiatan di awal liburan musim panas yang adalah program tahunan tersebut  wajib diikuti semua seminaris, tak terkecuali para siswa dari luar kelompok-kelompok  etnis tersebut, seperti dari Manggarai, Larantuka, Lembata, Kupang, ataupun  dari luar NTT. Mereka diberi kebebasan memilih bergabung di dalam salah satu dari ketiga kelompok etnis itu.

            Dalam kegiatan tersebut para siswa disebar ke dalam KUB-KUB di paroki tujuan, tinggal di tengah keluarga, untuk sejenak merasakan denyut riil kehidupan keluarga dari umat yang menjadi konteks pendidikan mereka, dan kelak pelayanan mereka di masa mendatang.

            Para siswa dari kelompok etnis GASSELI, misalnya, pada Kamis 17/06/2017, disebarkan dalam 32 KUB di paroki Moni. Keesokan harinya, mereka mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama umat di KUB masing-masing. Kegiatan sore hari adalah pertandingan sepak-bola persahabatan dengan OMK (Orang Muda Katolik) paroki Moni.

            Kegiatan serupa dilakukan para siswa kelompok etnis PERSIBA di Jerebuu dan TARSANTO di Boawae. Kegiatan malam adalah katekese umat di KUB masing-masing dengan tema Meneladani Keluarga Kudus Nasareth. Perayaan Ekaristi hari Minggu diadakan di pusat paroki, dengan koor yang ditanggung para siswa. Seluruh kegiatan live in diakhiri dengan Malam Hiburan berupa pentasan acara seperti drama, tarian atau pun nyanyian untuk menghibur umat setempat.

Pengalaman Berharga

            Kegiatan live in menyediakan banyak pengalaman berharga bagi para siswa. “Saya ditempatkan di KUB yang cukup jauh dari pusat paroki. Kami harus berjalan menurun cukup dalam, kemudian mendaki lagi”, ujar Mario Degho (17), siswa kelahiran kota Semarang, yang memilih live in di Jerebuu, sebuah paroki dengan perbukitan serba menjulang dan jalan yang curam.  Perjalanan turun naik bukit dengan tangga yang curam harus dilewatinya setiap kali pulang-pergi dari KUB ke paroki atau sebaliknya. Dia merasakan sendiri kerasnya perjuangan hidup yang tidak dialaminya di seminari. “Namun saya bahagia merasakan kehangatan keluarga di sana. Saya merasa diteguhkan”, lanjutnya.

            Hal serupa dialami Ito Funan Pineul (16), siswa asal Kefa, Timor, yang memilih live in di Moni. “Tempat saya jauh dari pusat paroki. Saat pertama saya ke tempat penginapan, saya diantar dengan motor. Hari-hari berikutnya waktu saya pergi ke pusat paroki untuk merayakan Ekaristi, baru saya sadar, ternyata lokasinya jauh. Umat kalau pergi ke pusat paroki harus berjalan jauh sekali. Saya sadar, saya tidak boleh cepat menyerah atau putus asa kalau mengalami kesulitan di seminari”, kisahnya.

            “Keluarga tempat saya tinggal adalah petani. Saya pergi bersama mereka ke kebun. Saya ingin sekali bekerja bersama mereka, tetapi mereka melarangnya. Saya sedih sekali”, kata Nando Magho (16), siswa asal Kalimantan yang memilih live in di Moni. “Tapi saya tahu, ini bentuk penghargaan mereka terhadap saya”.

            “Kampung tempat kami diinapkan jauh sekali dari pusat paroki. Kami diantar dengan satu motor. Belakangan saya tahu, itulah satu-satunya kendaraan ke kampung itu. Saat ke paroki hari-hari selanjutnya, motor digunakan untuk adik-adik siswa SMP, sedangkan saya dan teman-teman dari SMA memilih jalan kaki, kadang-kadang sambil berlari, karena jauh. Kami pernah berangkat dari paroki dan tiba kembali di kampung jam 9 malam. Yang mengharukan, umat masih setia menunggu”, syering Erik Senda (20), dan Stanley Novendra (18), keduanya siswa XII SMA.

            Manfaat lain dari kegiatan live in adalah pengalaman berorganisasi dan kolaborasi yang nyata. “Kami sendiri harus berkomunikasi dengan pastor paroki dan umat dari paroki tujuan, mempersiapkan seluruh acara, mengatur jadwal kegiatan, dan menghubungi kendaraan”, kata Andi A. Lowa, salah seorang pengurus kelompok etnis PERSIBA. Ada kegembiraan tapi juga tantangan yang tak jarang getir. Ada sukacita, tapi tak kurang kecemasan: tentang keselamatan, tentang jalannya acara, tentang ketepatan waktu, dan lain-lain.

Para siswa umumnya merasa amat diteguhkan dalam panggilan mereka. Kepolosan, keramahan umat, penghargaan mereka, kerendahan hati mereka, perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan mereka untuk mengembangkan hidup, kerinduan mereka untuk mendapatkan kunjungan lanjutan, keterampilan berorganisasi, berkomunikasi dan berkolaborasi, tanggungjawab untuk menyelesaikan seluruh kegiatan secara tuntas adalah sedikit dari sekian banyak bekal rohani yang dinikmati para siswa dan meneguhkan mereka.

Live in adalah salah satu kegiatan yang selalu dinantikan para siswa (Nani. Kontributor: Mario, San Sera, Alfian).

MOANA DAN KISAH ANAK YANG HILANG

Ia maju ke depan kelas dengan langkah canggung. Beberapa orang teman bertepuk tangan untuknya tetapi ia menampilkan ekspresi datar. Seluruh perhatian anggota kelas terarah kepadanya tetapi ia hanya terpaku memandangi lantai. Ia menyembunyikan tangan dan bukunya di belakang pinggang. Suasana kelas seketika hening. Semua menanti rangkaian kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Ia membuka buku, melirik singkat ke arahku dan menarik napas. Aku mengangguk pelan, memberinya kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada seluruh anggota kelas.

Ia mulai membaca hasil diskusi kelompok dari buku catatannya. Suaranya bergetar, seirama dengan getaran jari tangan yang memegang buku. Gugup. Beberapa kata salah diucapkan tapi cepat diperbaiki. Seluruh anggota kelas diam menyimak penjelasannya. Aku sendiri mulai meraba-raba alur gagasan kelompok yang sedang dipresentasikannya.

Pada semester ini, aku dipercayakan untuk mengampu mata pelajaran ekstrakulikuler Pendidikan Nilai bagi seminaris kelas delapan. Pendidikan Nilai merupakan pelajaran khas Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko. Melalui pelajaran ini siswa diperkenalkan dengan nilai-nilai khas seminari yang dikenal dengan nama 5S (Sanctus, Scientia, Sapientia, Sanitas, Sosialitas) beserta penjabaran yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari di asrama. Tujuan pelajaran ini adalah agar para seminaris menghayati kelima nilai tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari sehingga mereka dapat menjadi pribadi-pribadi calon imam yang berkembang secara holistik.

Saya mengawali pertemuan pertama bersama para seminaris kelas delapan dengan tema sosialitas. Secara sederhana sosialitas berkaitan dengan kenyataan bahwa para seminaris hidup bersama dalam satu asrama. Mereka hidup bersama dalam asrama dengan aturan yang ketat lantaran satu visi yang sama: membina diri untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Oleh karena itu, mereka mesti memiliki suatu cara pandang dan kebiasaan yang khas di mana aturan hidup harian menjadi penuntun bagi mereka. Setiap seminaris tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri saja, tetapi ia juga hadir dan ada bagi seminaris yang lain. Segala tindakan yang dilakukannya, entah baik atau kurang berkenan, pasti memiliki dampak bagi seminaris lain. Proses pembentukan diri juga terjadi berkat bantuan dan dukungan di antara mereka.

Pertemuan pertama kami awali dengan menonton film animasi Moana. Film keluaranWalt Disney Animation Studiotahun 2016 dan disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker ini mengangkat cerita rakyat dari wilayah Polinesia. Film Moana berkisah tentang perjuangan Moana, anak kepala suku Motunoui bersama Maui, manusia setengah dewa dalam mengarungi latuan luas. Mereka berlayar untuk mengembalikan jantung Te Fiti (The Heart of Te Fiti), Ibu Bumi, yang sebelumnya dicuri oleh Maui dari Te Fiti. Jantung Te Fiti mesti dikembalikan untuk meredam amarah Te Fiti dan mengakhiri bencana global termasuk gagal panen yang dialami penduduk Motunoui. Moana menjalani tugas ini karena satu alasan utama. Ia telah dipilih oleh lautan (the ocean) sejak ia masih kecil untuk menjadi penyelamat.Singkat cerita, Moana dan Maui berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik. Bencana berakhir dan masyarakat Motunoui mengetahui takdir mereka adalah bangsa penjelajah samudera.

     Setelah menonton film para seminaris mulai berdiskusi dalam kelompok. Diskusi dilakukan dengan bantuan pertanyaan penuntun untuk membahas tentang tokoh-tokoh dalam film Moana beserta karakter baik dan buruk yang mereka miliki berdasarkan pengamatan atas film. Saya juga meminta mereka untuk memilih tokoh yang disukai dan tidak disukai beserta alasan mereka menyukai atau tidak menyukai tokoh tersebut. Hasil diskusi dalam kelompok akan dipresentasikan kepada seluruh anggota kelas.

Selama diskusi berlangsung, para seminaris menaati empat aturan yang disepakati bersama. Pertama, selama diskusi berlangsung mereka tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan argumen yang bermaksud menghina atau mengolok anggota kelompok. Kedua, siswa yang maju untuk memberikan presentasi adalah siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah tampil di hadapan teman-temannya. Ketiga, orang yang ditunjuk tersebut tidak boleh menolak. Menolak berarti membuang kesempatan untuk menjadi orang hebat dan tidak menghargai dukungan dari teman-teman dalam kelompok. Keempat, siapapun yang tampil untuk berbicara harus didengarkan oleh seluruh anggota kelas.

Setelah diskusi, tiga orang pertama maju ke depan kelas mewakili kelompok masing-masing. Ketiganya memberikan presentasi yang menarik. Film Moana diulas dalam tiga perspektif yang berbeda. Elaborasi kelompok mengenai film tidak sekadar menjawab pertanyaan penuntun. Mereka juga mengkonfrontasikan dan mengaitkan film tersebut dengan kehidupan sehari-hari di asrama dalam berbagai sudut pandang. Ada yang mengidolakan Moana karena komitmennya menjawabi panggilan Ocean untuk mengembalikan The Heart of Te Fiti. Ada juga yang megidolakan Maui karena sikapgentleman mengakui kesalahandan bersedia menebus kesalahan dengan cara menemani Moana mengembalikan The Heart of Te Fiti. Ada juga yang mengidolakan Heihei, ayam konyol teman setia Moana sepanjang perjalanan bertemu Te Fiti. Alasan mereka sederhana, dalam kehidupan bersama di asrama dibutuhkan komitmen seperti Moana. Jika melakukan kesalahan mereka dapat bertindak seperti Maui Mereka juga dapat menjadi penghibur seperti Heihei bagi teman-teman yang mengalami kesulitan, meskipun mereka harus terlihat konyol.

Setelah tiga perwakilan kelompok tersebut, saya menunjuk ke kelompok selanjutnya. Kelompok ini berdiskusi di pojok kelas. Berbeda dengan kelompok lain yang terlihat sibuk ketika berdiskusi bahkan sampai beradu argumen, kelompok ini tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Suara mereka  tertutup oleh suara kelompok lain. Aktivitas diskusi yang mereka lakukan terlihat biasa saja. Lalu mereka mengutus dia yang duduk di pojok untuk memberikan presentasi.

Ia masih berbicara dengan suara bergetar. Saya terus mendengarkan presentasinya sambil mencoba meraba alur pemikiran yang ditawarkan. Sekali lagi, kelompok ini hadir dengan cara pandang yang berbeda dengan tiga kelompok sebelumnya. Pada pertengahan presentasinya aku terkesiap. Sudut pandang yang ditawarkan oleh kelompok ini istimewa. Mereka bukan hanya membahas film Moana. Film fantasi yang diadaptasi dari cerita rakyat Polinesia itu juga dikaitkan dengan perikop kitab suci yang dibacakan pada perayaan Ekaristi pagi hari itu, Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk. 15: 1-3, 11-32). Perumpamaan ini khas pengarang Lukas. Pada injil sinoptik lain tidak ditemukan kisah serupa. Lukas menggambarkan dinamika relasi antara Allah dengan manusia dalam injilnya dengan begitu menarik. Allah hadir dalam pribadi Bapa dengan sifat maharahimNya yang tidak terbatas dan karakter manusia dengan segala dinamika keterbatasan dan kesadarannya terwakili pada diri anak bungsu dan anak sulung. Ia membacakan hasil diskusi dalam kelompok.

Injil pada hari ini berkisah tentang Yesus yang menceritakan perumpamaan tentang anak yang hilang kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Kisah ini berbicara tentang relasi Ayah dan Anak. Ayah dalam Injil sama dengan Te Fiti dalam Film. Mereka adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya. Maui dalam film seperti anak bungsu dalam Injil. Maui mencuri hati Te Fiti. Ia mengkhianati Te Fiti yang memberikan kehidupan bagi dunia. Anak bungsu meminta warisan ketika ayahnya masih hidup. Akhir kisah anak Bungsu dan Maui sama. Keduanya berlumur penyesalan dan rasa malu.

Moana adalah harapan untuk kembali. Ia menjadi jalan bagi Maui untuk kembali berdamai dengan Te Fiti, Sang Pemilik kehidupan. Ia menjadi jalan bagi Maui untuk secara gentleman mengakui kesalahan yang telah dibuat. Satu hal yang membuat anak bungsu dalam injil kembali adalah harapan akan pengampunan. Reaksi Te Fiti serupa dengan reaksi Bapa dalam Injil. Ia tidak menghukum anaknya yang berbuat salah tetapi mengampuninya. Bahkan bagi anak bungsu dibuatkan pesta yang besar. Maui mendapatkan pancing ajaib baru dari Te Fiti setelah pancing ajaibnya yang lama rusak ketika bertempur melawan Te Ka.

     Selalu ada jalan untuk memperbaiki kesalahan. Selalu ada kesempatan untuk bertobat dari kesalahan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Kelemahan manusia adalah selalu jatuh dalam dosa dan kesalahan. Akan tetapi, Allah menganugerahkan kepadanya budi baru sehingga ia dapat selalu bertobat dan menyadari kesalahannya. Masa prapaskah ini adalah jalan bagi kita sebagai seminaris untuk kembali kepada Allah. Memperbaiki hubungan yang telah rusak karena kesalahan yang telah kita perbuat”

Ruangan kelas diliputi keheningan. Suara-suara cibiran ketika ia mengaitkan film Moana, perumpamaan tentanganak yang hilang, masa prapaskah, dan hidup sebagai seminaris lenyap. Presentasinya telah membius kami semua. Aku terkesima mendengar presentasinya. Ide yang ditawarkan luar biasa. Kelompok ini mampu melihat adanya kesamaan dalam empat situasi yang berbeda dan mengaitkannya dengan apik. Film bukan sekadar hiburan bagi mereka tetapi mengandung nilai-nilai yang dapat menyentuh aspek personal kehidupan mereka. Sekarang, giliran dirinya menatap seluruh penghuni kelas. Setelah sepersekian detik takjub kami mengapresiasi presentasi itu dengan tepuk tangan keras. Ia kembali ke tempat duduk sambil tersipu malu.

Aku keluar ruangan kelas sambil tersenyum kecil. Proses pembelajaran yang baru saja kami lakukan mengungkap banyak hal. Para seminaris cilik ini telah memahami makna pengalaman. Pada setiap pengalaman yang mereka dapatkan di seminari terpendam nilai-nilai kehidupan. Mereka sendiri yang menemukan nilai-nilai itu dan saling berbagi satu dengan yang lain, dimulai dalam ruang kelas. Film hanyastimulan, membantu mereka untuk berimajinasi, berpikir, dan merenungkan kehidupan mereka sendiri, menemukan nilai-nilai kehidupan, menyadarinya, dan perlahan-lahan menghayatinya. Para seminaris cilik ini menunjukkan potensi diri yang luar biasa dibalik kesahajaan hidup sehari-hari.

Mereka belajar saling mendukung satu sama lain dengan berbagi pikiran dan refleksi. Mereka mendukung temannya yang jarang tampil untuk presentasi dengan cara memberi kepercayaan kepadanya. Ia diberi kepercayaan untuk tampil dan seluruh anggota kelas setia mendengarkan presentasinya. Setelah presentasi teman-teman mengapresiasinya dengan tepukan tangan. Sebuah tindakan kecil tetapi sangat berharga bagi orang yang diberi kepercayaan karena dirinya merasa dihargai dan didukung.

Aku keluar dari ruang kelas dengan suatu niat. Para seminaris cilik ini memendam harta berharga pada dirinya. Harta itu harus ditemukan dan dikembangkan agar berguna bagi banyak orang. Agar mereka dapat bertumbuh dan berkembang secara utuh serta bahagia menjadi manusia dan ketika dipanggil menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan.

Sdr. Rio Edison, OFM

TOPER

MENYATUKAN HATI DEMI PENDIDIKAN CALON IMAM

            Temu orangtua seminaris dengan para formator Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu Mataloko berlangsung hari Minggu (4/2/2018). Kegiatan seharian itu diawali Ibadat Sabda oleh Fr. Ces Djo, lalu tatap muka bersama Rm. Praeses di kapela SMA, dilanjutkan dengan pembicaraan terpisah para orangtua seminaris SMP bersama tim prefek (pamong) SMP di Aula Rekreasi SMP, dan para orangtua seminaris SMA bersama tim prefek SMA di Ruang Musik SMA. Tampil pula paduan suara Berkhmawan menghibur para orangtua.

            Di hadapan ratusan orangtua seminaris yang memenuhi kapela SMA, Rm. Gabriel Idrus, Pr, Praeses Seminari, mengungkapkan terima kasih yang tulus karena para orangtua berkerelaan hadir pada Hari Orangtua Seminaris (HOS) tahun ini. “Bapak Uskup memandang HOS sebagai wujud konkrit tanggungjawab gereja terhadap pendidikan calon imam, dan gereja adalah kita semua. Terima kasih atas kehadiran bapak/ibu”.

            Selanjutnya, Rm. Idrus kembali menegaskan tujuan berdirinya seminari. Dikatakannya, seminari ini ada karena gereja membutuhkan imam. Imam yang dibutuhkan adalah imam yang mampu menghadirkan Kristus sebagai Imam Agung, yang mampu menjalankan tugas imamat yakni sebagai nabi yang mewartakan, gembala yang memimpin, dan imam yang menguduskan. Imam-imam seperti ini mempunyai tuntutan kerohanian yang khas, dan habitus yang khas, dan untuk itulah seminari didirikan. “Seminari didirikan karena keharusan misioner, bukan karena selera manusiawi. Aturan-aturan yang ada diciptakan agar 5 S (sanctitas, scientia, sapientia, sanitas, socialitas) berkembang menjadi habitus dalam diri calon imam”, katanya.

Rumah Pengkaderan

Secara singkat Rm. Idrus mengangkat kembali pembicaraan Bapak Uskup Agung Ende, Mgr. Vincensius Sensi Potokota, pada kegiatan HOS tahun 2016 lalu.

“Menarik sekali, saat itu Bapak Uskup berbicara tentang seminari ini sebagai rumah pengkaderan, tentu dengan tujuan agar para siswa kita kelak dapat menjadi imam yang tangguh”, papar Rm. Idrus. Ia menyebutkan beberapa hal yang disampaikan Bapak Uskup saat HOS itu.

            Pertama, sebagai lembaga pengkaderan, orang tidak bisa datang ke seminari dengan motivasi setengah-setengah. “Kalau sekedar cari ilmu atau keterampilan, di mana-mana bisa” tambahnya, meniru ucapan Uskup. “Pengiriman anak ke seminari, karena itu, tidak bisa dilakukan dengan motivasi, ‘kami titip anak ke seminari – siapa tahu Tuhan pilih’. Dari awal motivasi mestinya sudah harus dipertegas, diperbarui. Identitas itu harus tegas dan jelas. Para siswa harus sudah mencintai identitas itu sejak awal, itu pesan Bapak Uskup”.

Rm. Idrus meminta para orangtua bahu-membahu membantu agar sejak awal anak-anak mencintai panggilannya, misalnya, dengan terus mendorong anak-anak menghayati 5 S dalam hidupnya melalui kerelaan mengikuti pedoman dan aturan hidup yang sudah teruji dari waktu ke waktu. “Kita semua diminta mendukung dengan segenap hati, bukan dengan setengah hati, apalagi dengan motivasi-motivasi tersembunyi, yang membuat anak-anak kita tergoda untuk menghayati identitas ganda: di muka umum dia pura-pura menjadi calon imam, di belakang-belakang secara sembunyi-sembunyi dia menghayati hidup seakan-akan bukan sebagai calon imam”, tegas Rm. Idrus.

Kedua, Rm. Idrus menyampaikan harapan Bapak Uskup agar para orangtua mempercayakan anak-anak kepada para formator seminari dengan sepenuh hati, dari lubuk hati. “Berkali-kali Bapak Uskup meminta agar kepercayaan diberikan dari lubuk hati karena di dalam lubuk hati ada kasih-sayang, ada tanggungjawab, ada nurani, ada suara kehendak Tuhan”, tambahnya. Keputusan-keputusan yang diambil di seminari, lanjutnya, tidak berdasarkan suka atau tidak suka, tetapi sudah digariskan dalam pedoman yang jelas. “Namun agar semuanya bisa berjalan dengan baik, perlu ada tanggungjawab bersama. Dalam kata-kata Bapak Uskup, tidak usah merusakkan anak-anak dengan kasih-sayang yang tidak benar, yang tidak nyambung, kasih sayang yang memanjakan”.

Dalam perbincangan dengan masing-masing prefek/pamong banyak dibicarakan tentang kehidupan para siswa di asrama, agar ada pengertian dan tanggungjawab bersama untuk merawat panggilan dan menumbuhkembangkan kepribadian anak.

Usai pertemuan dengan para formator, para orangtua berkesempatan bercengkerama dengan anak-anaknya, sambil menikmati makan siang bersama.

HOS tahun ini adalah kegiatan ketiga kalinya sejak pertama kali dilaksanakan tahun 2015 silam. Kegiatan ini diagendakan sebagai momen tahunan (Nani).

MAHASISWA POLITEKNIK PRAKTIK LAPANG DI SEMINARI MATALOKO

            Tiga mahasiswa/i Politeknik St. Wilhelmus Boawae, yakni Magdalena Dhema (23), Maria Winfrida Wua Dhema (22), dan Servasius Podhi (23), dari jurusan Nutrisi Peternakan  menjalani praktik lapang di Seminari Mataloko selama tiga bulan terhitung 27/02/2018 silam.

Ditemui saat bekerja di kandang babi di Tanjung, Seminari Mataloko, ketiganya mengaku sangat bergembira berada di tengah komunitas seminari. Fokus praktik lapang adalah pada teknik pengolahan pakan dan pengaruhnya pada perkembangan ternak serta manajemen pemeliharaan ternak babi.

Ketiganya berharap, selain belajar menerapkan ilmunya dalam karya nyata, kehadiran mereka membawa manfaat bagi pengembangan usaha ternak babi di lembaga pendidikan calon imam ini. Harapan lainnya, di masa mendatang usaha ini dapat makin berkembang  mengingat ketersediaan kandang yang luas walau dibutuhkan renovasi karena dimakan usia, ketersediaan air dan pakan alami yang cukup.

Bagian dari Kewirausahaan Sekolah dan Pelayanan Masyarakat

            Usaha ternak adalah bagian kewirausahaan SMP dan SMA Seminari, yang peruntukkannya adalah pemenuhan kebutuhan komunitas seminari dan pelayanan kepada masyarakat sekitar.

            Para siswa membutuhkan asupan protein yang cukup untuk kesehatan tubuhnya yang, tentu saja, berpengaruh bagi kesehatan mental dan ketahanan belajar. Kecuali tahu, ikan dan telur yang rutin disuguhkan setiap hari, mereka mendapatkan lauk berupa daging babi.

            Masyarakat sekitar mendapat pelayanan dari usaha ternak ini. “Sejauh ini masyarakat sangat terbantu, baik yang membutuhkan babi besar maupun breeding atau babi untuk pengembangbiakan. Bahkan Pemerintahpun mendapatkan pasokan babi untuk kelompok-kelompok ternak babi di tengah masyarakat”, ungkap Rm. Seli Fe, Pr, penanggungjawab kandang babi.

            Pelayanan kepada masyarakat melalui penyediaan babi besar dan breeding adalah hal baru yang dikembangkan dalam usaha ternak ini. Sudah lama usaha ternak babi dijalankan, bahkan sejak zaman para misionaris SVD, tetapi perhatiannya lebih untuk kebutuhan ke dalam.

            Mengapresiasi peran sosial usaha ternak babi ini, Pemerintah memberikan perhatian besar khususnya melalui penyediaan induk babi dan pejantan. “Bapak gubernur sendiri menyalurkan bantuan dan berkenan mengunjungi ternak babi di Tanjung”, jelas Rm. Seli.

Butuh Renovasi Kandang

            Kendala yang dialami saat ini adalah keadaan kandang yang terlihat tua, lapuk, dan kurang sehat bagi pertumbuhkembangan babi. “Kita membutuhkan renovasi kandang secara menyeluruh khususnya kandang induk babi sehingga semakin banyak induk babi yang tertampung dalam kandang yang memadai. Renovasi itu mendesak, karena kandang yang ada adalah warisan para misionaris SVD sejak tahun 1920-an, yang saat itu dibangun lebih untuk pemenuhan kebutuhan ke dalam. Saat ini, ketika pelayanan sosial kepada masyarakat menjadi salah satu perhatian penting, misalnya dengan penyediaan induk babi dan breeding, sangat dibutuhkan adanya kandang babi yang sehat”, jelas Rm. Seli.

            Rm. Seli Fe, Pr, memandang usaha ternak babi sangat prospektif ke depan. “Dengan manajemen yang baik, penyediaan makanan yang cukup, dan didukung kandang yang sehat, wirausaha sekolah di bidang ini menjanjikan dan kebutuhan masyarakat semakin terlayani”, tambahnya penuh semangat.

            Selain usaha ternak babi, seminari juga mengupayakan ternak sapi. Usaha ternak sapi sangat mungkin dilakukan karena ketersediaan rumput king grass yang melimpah.

Saat ini terdapat 9 ekor induk sapi dan pejantan yang merupakan bantuan Komisi PSE KWI. Sebelum ini, beberapa ekor sapi piaraan siswa SMPS Seminari telah terjual (Nani).

PANEN JAGUNG LAMURU DI KEBUN SEMINARI

            Panen jagung komposit berjenis Lamuru dilakukan di kebun seminari Rabu,25/10/2017 silam. Hadir dalam kegiatan ini Yohanes Tay, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Paskalis Wale Bai, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ngada, Letkol. Czi Arman, Dandim Kabupaten Ngada, dan sejumlah rombongan. Sebanyak 10 ton jagung berhasil dikumpulkan untuk pemenuhan kebutuhan benih jagung bagi para petani sedaratan Flores.

            Kepada Praeses Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu, Rm. Gabriel Idrus, Pr, Yohanes Tay mengungkapkan kepuasan dan kegembiraannya atas hasil yang dicapai. “Ini adalah wujud kerja keras dan kepedulian yang besar dalam gerakan mewujudkan swasembada pangan”, katanya. Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ngada. Atas nama pemerintah mereka berhadap kerja sama seperti ini terus berlanjut di waktu-waktu mendatang demi meningkatkan ketahanan pangan. “Kita butuh kolaborasi membangun ketahanan pangan di wilayah kita. Karena itu kami menunjuk lahan kebun seminari ini sebagai lokasi penangkaran jagung”, ujar Yohanes Tay.

Mengolah Tanah, Merawat Panggilan

            Kegiatan menanam jagung di lahan seluas 5 hektare ini dilakukan siswa SMP/SMA Seminari sebagai salah satu pengejawantahan gerakan Mengolah Tanah, Merawat Panggilan, yang dicanangkan pada pelatihan berkebun bersama Komisi PSE KWI pada 5-7 Oktober 2015. Saat itu Rm. Teguh, Pr, ketua Komisi PSE KWI bersama teman-temannya memfasilitasi pergumulan bersama seluruh anggota komunitas seminari untuk menyadari pentingnya tanah dalam seluruh karya penciptaan Tuhan dan dalam konteks panggilan sebagai imam di wilayah Nusa Tenggara.

 “Allah menghembuskan nafasNya maka tanah menjadi hidup. Kita perlu belajar menundukkan kepala, menghembuskan nafas yang dianugerahkan Tuhan kepada kita agar tanah menjadi hidup dan menghasilkan”, kata Rm. Teguh. Dia melanjutkan, seorang calon imam harus akrab dengan bau tanah sejak awal pendidikannya di seminari, karena tanah adalah konteks pastoral yang paling melekat dalam tubuh gereja di Nusa Tenggara.

            Pada pelatihan tersebut seluruh civitas academica SMP/SMA seminari membersihkan tanah, menata petak-petak lahan, dan membangun bak-bak air sebagai persiapan budi-daya sayur-mayur untuk kepentingan komunitas seminari maupun masyarakat yang membutuhkan.

Refleksi yang dilakukan sehari setelah kerja bakti bersama tersebut menemukan betapa indahnya nilai-nilai seperti kebersamaan, tanggungjawab, pengorbanan, bahkan kasih persaudaraan, yang semuanya menyatu pada substansi yang sama, yakni tanah. “Awalnya saya merasa pesimis karena banyak sekali lahan yang belum dikerjakan. Ternyata pekerjaan itu selesai hanya dalam dua hari. Saya menjadi sadar, bahwa pekerjaan seberat  apapun akan selesai dalam waktu yang singkat jika kita bekerja sama dalam kekompakan”, demikian refleksi Gerald Doa Dawa, siswa kelas VII. Tanah itu sesungguhnya pintu masuk penumbuh-kembangan nilai-nilai.

            Di bawah koordinasi Rm. Daniel Sirilus Edo, Pr, berbagai jenis sayur dibudidayakan dan telah memenuhi kebutuhan seluruh anggota komunitas, bahkan masyarakat sekitar. Pemerintah pun mengulurkan tangan secara konkrit melalui kerja sama seperti pengadaan benih sayur, penyediaan pupuk organik, penanaman jagung komposit jenis Lamuru, penyediaan benih kopi arabika yang ditanam pada lahan seluas 2 hektare, dan bantuan alat pertanian, seperti traktor roda empat.

Para Siswa adalah Pelaku

            Budidaya pertanian sudah lama dikembangkan di Mataloko sejak zaman para misionaris, bahkan sebelum seminari didirikan, yakni tahun 1922,            ketika Br. Gallus v.d. Lith menanganinya. Di tangan para misionaris SVD ini, Mataloko dikenal sebagai daerah penghasil sayur dan ternak. “Peternakan berkembang, sudah ada mentega dan susu, kebun menghasilkan berbagai macam sayur, 2 kali setahun kami panen kentang, juga kami tanam gandum”, tulis P. Ettel, SVD pada tahun 1926 (Sejarah Gereja Katolik Indonesia, 3b, hal. 1180).

            Bedanya saat ini pelaku budi daya pertanian adalah para siswa sendiri. “Setiap kelas atau kelompok mendapat giliran satu jam sehari bekerja di kebun”, tutur Rm. Sil Edo, Pr. Dengan bekerja di kebun para siswa belajar mengembangkan kecintaan pada pertanian dan lingkungan. “Banyak siswa terampil berkebun, bahkan terampil membuat pupuk organik seperti bokasi”, katanya. Rm. Sil yakin, kecintaan pada tanah membantu para siswa merawat panggilannya (Nani).

KARAKTER: URAT NADI PENDIDIKAN Pelatihan bersama Dr. Itje Chodidjah, MA

             “Urat nadi pendidikan adalah karakter”, demikian penegasan Dr. Itje Chodidjah, MA, mengawali Interpersonal and Social Skills Training, sebuah pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter, kepada para formator dan guru di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, 15-17 Februari 2018 silam. “Karakter yang kuat bertumbuh karena penghayatan nilai-nilai, dan kitalah penumbuh-penumbuh karakter itu dalam diri anak-anak”, lanjut salah satu anggota Badan Akreditasi Nasional itu, yang memilih NTT sebagai salah satu daerah binaannya. Untuk menjadi penumbuh karakter seorang guru dituntut menghayati nilai-nilai di dalam kehidupannya secara konsisten. “Di luar kelas, di tengah masyarakat, seorang guru tetaplah guru. Karakter tidak dipelajari siswa, tapi ditangkap siswa dari perilaku guru”, tandasnya.

            Pelatihan yang berlangsung dua setengah hari itu banyak memberi ilham bagi perubahan. Ada pergumulan dan refleksi mengenai roda nilai dan pemberian bintang pada penghayatan nilai sesuai indikator yang ditetapkan; ada pergumulan dan refleksi tentang kolaborasi, yang amat penting dalam kehidupan saat ini, yang memungkinkan atmosfir green zone tercipta karena ada trust, keterbukaan dan saling berbagi sehingga memungkinkan setiap orang berkembang (growth mindset); ada pergumulan dan refleksi mengenai kualitas berkomunikasi yang tidak hanya menyangkut kata (verbal) tetapi juga intonasi dan bahasa tubuh (nonverbal); ada pembelajaran dengan menggunakan quadrant; ada pembelajaran mengenai six thinking hats dari Edward de Bono yang mengasyikkan sekaligus menantang; dan pembelajaran mengenai coaching yang sungguh menyegarkan dan terasa memenuhi kebutuhan akan adanya pendampingan yang manusiawi dan menumbuh-kembangkan.

            Praeses Seminari, Rm. Gabriel Idrus, Pr, menyatakan kegembiraan dan kepuasannya usai mengikuti pelatihan ini. “Bagi saya, kegiatan pelatihan singkat selama dua setengah hari adalah pintu masuk untuk banyak perubahan dari mimpi-mimpi pembenahan lembaga yang selama ini diwacanakan”, tulis Rm. Idrus dalam refleksinya. Ia juga mengungkapkan rasa harunya, karena pelatihan berkualitas internasional di lembaga pendidikan calon imam difasilitasi ibu Muslim berhati mulia. “Kekuatan ibu Itje adalah hatinya. Kekuatan hati mempertemukan jarak rasa, membuka sekat-sekat perbedaan, menyatukan cita-cita dan harapan. Kekuatan hati mengedepankan kemanusiaan lebih dari apapun lainnya”, tandasnya.

            Hal senada disampaikan Rm. Benediktus Lalo, Pr, Prefek/Pamong SMA Seminari. Rm. Beny menangkap perubahan signifikan yang terjadi usai pelatihan. “Kami merasakan adanya perubahan suasana. Suasana adem dan nyaman dalam relasi antar guru dan siswa. Masalah siswa tetap ada tapi terasa tidak ‘mencekam’ lagi. Para guru membuat pendekatan baru yang membawa pertumbuhan”, ungkapnya.

Rm. Aleks Dae, Pr, guru bahasa Indonesia, menuliskan catatannya mengenai pelatihan tersebut sebagai berikut, “Latihan coaching bagi saya merupakan babak baru untuk menempatkan para siswa sebagai pihak yang lebih berhak menentukan solusi atas masalahnya sendiri. Latihan coaching sangat membantu saya mengajukan pertanyaan yang tepat dalam suasana tenang sehingga siswa dapat dengan lega menemukan pilihan yang tepat dalam mengatasi masalah”.

Diungkapan secara berbeda, Yohanes N. Koandijalo, guru Kesenian mengatakan, “Saya sangat bersyukur karena kegiatan ini menyadarkan saya dan memotivasi saya untuk membenahi diri saya dari waktu ke waktu untuk menjadi seorang pendidik yang berkompeten dan memiliki rasa tanggungjawab yang besar atas masa depan peserta didik”.

F.XLindawati memberikan catatannya mengenai sesi pembelajaran Six thinking hats dari Edward de Bono. Ia mengatakan, “Sesi ini menyadarkan saya, bahwa dalam situasi berbeda kita harus menggunakan pola pikir dan pendekatan yang berbeda atas masalah atau kasus yang dihadapi. Kita perlu terus berlatih agar kita semakin cerdas dan bijak dalam ‘mengganti’ topi yang kita kenakan”.

Dari Knowing ke Being

            Kepala SMPS Seminari, Rm. Kristo Betu, Pr, dalam refleksinya melihat momen pelatihan bersama ibu Itje Chodidjah tepat pada waktunya. “Ibu Itje mengingatkan kembali kita semua agar proses pendidikan kita tidak hanya menjejalkan pengetahuan yang nanti habis dalam ujian, tetapi harus bermakna pada pengembangan kualitas hidup para siswa kita. Kita harus sungguh bergerak dari sekedar knowing kepada being yang berkualitas. Apa artinya pengetahuan, dikte, penghafalan, kalau semua itu menguap begitu cepat tak berbekas, sementara itu kualitas kepribadian anak dengan berbagai kemungkinannya tidak bertumbuh dan berkembang”, ujarnya.

            Rm. Kristo amat terkesan dengan pergumulan mengenai guru sebagai suatu lingkaran tanpa putus. “Justru agar being, kehidupan, jati-diri anak bertumbuh dan berkembang maksimal, korps guru harus menjadi suatu lingkaran tanpa putus. Satu saja guru tidak tanggap terhadap perilakunya, dia bisa merusak karakter siswa secara keseluruhan”.

            Dengan kata lain, dibutuhkan kerelaan berubah dalam diri guru. Hal tersebut disampaikan oleh Paulina Bate, guru IPA terpadu SMPS Seminari. “Saya akan berusaha memperbaiki pola relasi saya”, katanya. “Saya ingin meningkatkan cara berkomunikasi saya yang lebih efektif, lebih berempati, lebih sabar, lebih mendengarkan teman-teman guru saya, dan, terutama, siswa-siswa saya”, ungkap Bernadetha Wea, guru bahasa Inggris SMP.  Artinya dibutuhkan “pertobatan pedagogis”, kata Rio Edison, OFM, agar guru sungguh dapat menjadi designer perubahan perilaku. Tentu saja, “tidak ada kata terlambat untuk orang yang mau berubah”, tulis Gaby Simatupang. “Alangkah baiknya jika setiap hari para siswa menemukan tokoh-tokoh teladan yang muncul dari guru, yang menginspirasi perubahan karakter dan perilaku”, simpul Fransiska Dhera, guru bahasa Indonesia.

            Dalam evaluasi mengenai kegiatan pelatihan tersebut pada 3 Maret 2018, semua guru mengharapkan keberlanjutan pelatihan seperti ini bersama ibu Itje Chodidjah. (Nani).