Ibu Yustin1

TERPANGGIL KARENA SOSOK GURU

Oleh: Ibu Yustina Ia, S. Pd

Menjadi guru itu bukan sekadar profesi melainkan panggilan hidup. Panggilan untuk mendidik dan mengajar anak-anak menjadi generasi yang cerdas. Bagi saya menjadi guru adalah suatu tugas yang sangat mulia. Kemuliaan seorang guru datang karena ia merupakan sosok yang sangat penting bagi masa depan anak didiknya.

Perkenalkan nama saya Yustina Ia. Anak-anak biasa menyapa saya Ibu Yustin. Saya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMPS Seminari St. Yoh. Berkhmans Mataloko yang terletak di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT sejak tahun 2015.

Ketertarikan menjadi guru saya rasakan sejak di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu saya terinspirasi dengan salah seorang guru matematika. Saya dikenal sebagai siswa yang pandai dalam pelajaran matematika. Bagi saya, pelajaran matematika adalah pelajaran yang sangat menyenangkan. Selain itu, kehadiran guru juga membuat saya menikmati pelajaran matematika. Namanya Bapak Paskalis Pasi. Sosok itulah yang membuat saya terinspirasi menjadi guru.

Ketika saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama, ketertarikan saya pada pelajaran matematika semakin menurun. Alasannya karena menurut saya, guru yang mengajar mata pelajaran tersebut sangat membosankan. Meskipun ketertarikan saya pada pelajaran matematika semakin menurun, itu tidak membuat motivasi belajar saya berkurang.

Cita-cita saya menjadi guru mendapat inspirasinya lagi dari sosok seorang guru muda yang sangat cantik ketika saya duduk di bangku SMA. Waktu itu dia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan mungkin karena itulah, ketika masuk perguruan tinggi saya mengambil jurusan tersebut, sampai pada akhirnya saya pun menjadi seorang sarjana pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Di awal tahun 2015, saya diterima untuk menjadi guru di SMPS Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko, yang peserta didiknya laki-laki. Peserta didik ini dipersiapkan untuk menjadi imam Katolik. Saya tidak langsung diterima begitu saja. Proses penerimaannya dilakukan melalui tes. Yang pertama, kami mengikuti micro teaching, dan yang kedua kami diminta menulis artikel yang temanya diberikan oleh panitia.

Dari sekian banyak pelamar, saya termasuk orang yang sangat beruntung. Betapa bahagianya ketika mengetahui bahwa saya lulus tes dan diterima menjadi guru di SMPS Seminari St. Yoh. Berkhmans Mataloko.

Menjadi guru baru di lembaga pendidikan calon imam, pada awalnya membuat saya tidak merasa  percaya diri atau bisa dikatakan menyerah sebelum mencoba. Saya katakan demikian karena dalam pandangan orang, siswa yang bersekolah di SMPS Seminari St. Yoh. Berkhmans Mataloko adalah kumpulan siswa yang cerdas. Walaupun demikian saya tetap memberanikan diri untuk menghadapi situasi ini dengan sebuah tekad untuk harus bisa.

Awal ketika saya bergabung di lembaga tersebut, selain menjadi guru, ada dua tugas tambahan yang dipercayakan kepada saya. Yang pertama sebagai wali kelas VII, dan yang kedua sebagai kepala perpustakaan. Saya sangat menikmati tugas yang telah dipercayakan. Sebagai wali kelas, saya berusaha mengenal lebih dekat setiap siswa. Bahkan kadang kala berkomunikasi dengan orangtua siswa demi kemajuan anaknya. Sebagai kepala perpustakaan saya selalu berusaha menjalin komunikasi bersama tenaga perpustakaan di sela-sela waktu senggang.

Tugas tambahan tidak menghalangi panggilan saya sebagai guru. Saya masuk ruangan kelas secara tertib. Saya merasa senang saat bertatap muka dengan siswa di kelas. Segala beban yang ada di pikiran saya seolah hilang ketika bertemu dengan mereka.

Sebelum proses pembelajaran berlangsung biasanya saya terlebih dahulu menyiapkan semua perangkat pembelajaran. Dimulai dari modul ajar, LKPD, dan video pembelajaran. Materi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa, saya susun dengan sederhana agar siswa lebih mudah memahami.

Dalam penerapan kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari empat aspek. Yakni aspek menyimak, membaca, berbicara, dan aspek menulis. Ketika hendak mengembangkan keterampilan menyimak sering saya gunakan video, karena menurut saya dengan menayangkan video pembelajaran pada aspek ini, anak-anak dilatih  untuk lebih berpikir kritis.

Hal positif yang saya temukan ketika proses pembelajaran berlangsung adalah antusiasme sebagian besar siswa yang berlomba-lomba untuk bertanya berkaitan dengan materi yang saya sampaikan. Hal ini sungguh saya nikmati sehingga membuat saya merasa ditantang untuk terus belajar, berinovasi dan kreatif dalam menyiapkan materi dan strategi untuk selalu menghidupkan suasana kelas.

Namun, ada juga hal negatif yang saya temukan di dalam kelas. Misalnya ada siswa yang susah ditegur, siswa yang suka berpindah-pindah tempat duduk, siswa yang suka menyanyi, dan bahkan ada siswa yang tidur pada saat proses pembelajaran. Ketika menemukan hal itu, saya biasanya tidak menghukum mereka. Saya memanggil mereka dengan aura keibuan saya, kemudian menasihati mereka, memberi motivasi dan memperingatkan mereka untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Menjadi guru memang tidaklah mudah. Namun jika dijalani dengan penuh keikhlasan maka semua kelelahan yang kita rasakan dapat diganti dengan kebahagian dan kebanggaan tersendiri.

Saya berusaha memberikan yang terbaik bagi siswa. Oleh karena itu saya terus belajar. Mungkin untuk saat ini saya belum maksimal, tetapi saya yakin, dengan belajar, saya akan menjadi guru yang lebih baik. Saya selalu berharap, apa yang saya lakukan bermanfaat dan berguna bagi mereka di masa depan.

Saya bersyukur bisa mendidik anak-anak bangsa. Saya bersyukur menemukan tantangan dalam proses pembelajaran. Ada anak yang kelihatan tidak punya motivasi. Saya melihatnya sebagai kesempatan belajar memotivasi mereka.  Ada siswa yang bermasalah karena kepribadian. Saya belajar memperkokoh karakter mereka.  

Saya berusaha memperbaiki diri secara terus menerus sehingga menjadi guru yang professional dan baik. Saya berusaha segenap hati menjalani tugas panggilan sebagai seorang guru dan terus berproses dari waktu ke waktu.

Weekend11

BERIKAN CINTA TANPA MAMANDANG STATUS SILSILAH

Cinta merupakan sebuah perasaan tulus yang disampaikan dari hati. Cinta yang tulus datang dari dasar hati yang paling dalam. Cinta hadir karena sikap saling percaya. Cinta yang besar itu, dirasakan oleh seminaris saat berpastoral. Joanne Baptista Wolosambi tempatnya. Cinta yang begitu besar dan dalam itu hadir dengan penuh hangat.

Umat Wolosambi memiliki cinta yang besar terhadap seminaris. Hubungan keluarga mungkin tak ada. Namun cinta yang diberi, bak cinta kedua orang tua kandung saja. Perhitungan. Mungkin kata yang tidak mereka kenal saat memberikan kasih sayang.

Banyak kisah indah yang dilewati, bersama umat Wolosambi. Kisah indah, yang sulit untuk dilupakan. Kisah cinta seorang ibu yang begitu besar kepada anaknya. Walaupun tak punya hubungan kekerabatan, ataupun garis keturunan.

Nyaman. Kata itu sangat tepat disematkan. Untuk para umat Wolosambi. Ketulusan yang diberi, membuat kami sangat nyaman. Sangat beda sekali perlakuan yang kami alami. Saat ini, saya menyadari bahwa betapa umat menantikan kehadiran seorang calon imam di tengah mereka. Oleh sebab itu, jadilah seorang calon imam yang berpribadi baik dan berkarakter mulia. Agar presepsi umat tidak dapat dipatahkan.

Dari kebaikan umat. Saya yakin hal serupa tidak hanya seminaris rasakan saat di Wolosambi saja. Namun, dapat di mana saja jika seminaris membawa kebiasaan baik yang diperoleh saat di asrama. Sikap yang baik dan ramah, sangat diapresiasi oleh banyak orang. Para calon imam sampai diberikan respon baik oleh umat, bukan hanya status belaka. Tetapi dibalik perawakan yang beragam itu, tertanam tujuan yang sama. Yaitu sebagai para saksi Kristus.

Terima kasih Wolosambi. Banyak pelajaran yang kami peroleh. Namamu akan menghiasi segala warna yang indah dalam perjalanan imamat kami. Segala hal baik yang tercurah, akan kami terima dan akan kami tanamkan dalam hidup dan karya kami. Segala macam pemberian, akan kami kembalikan dalam bentuk doa. Dan pada akhirnya kami hanya dapat mengucapkan terima kasih yang besar terhadap keluarga besar Paroki Joanne Baptista Wolosambi. (Eskil Lou – IX B)

Weekend2

Berpastoral: Kunci Menuju Imamat

Berpastoral merupakan kegiatan kunjungan di tengah-tengah umat. Kegiatan yang berlandaskan pada pewartaan dan kesaksian hidup melalui katekese, dan lain-lain. Pada tanggal 8 – 10 Maret 2024, lembaga pendidikan calon imam SMPS Seminari Mataloko menjalankan kegiatan pastoral di Paroki St. Joanne Baptista Wolosambi. Pewartaan dan kesaksian hadir pula, melalui katekese dan kegiatan lainnya. Berpastoral menjadi bahan pokok dalam membekali calon imam menuju imamat, terkhususnya dalam mewartakan Sabda Allah.

Katekese Umat itu Penting

Katekese merupakan kegiatan pembinaan iman bagi anak-anak, kaum muda dan orang dewasa, singkatnya semua umat beriman. Katekese tersebut diajarkan secara sistematis dengan maksud mampu mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristiani. Katekese ini menjadi penting karena menjadi landasan pengetahuan iman. Orang beriman tentu tahu apa yang diimani dan makna yang terkandung di dalamnya. Jadi, katekese umat merupakan suatu kegiatan di mana umat berkumpul dan membahas, serta bersaksi akan Yesus Kristus dalam berbagai pandangan yang mampu menguatkan iman mereka yang berpegang pada Sabda Allah, yakni Kitab Suci.

Hidup kita harus bermakna. Panggilan itu berarti melayani sesama dalam Nama Tuhan. Pelayanan  harus mengalir dari Sabda Allah. Semua aktivitas kita mesti terarah pada tujuan utama misi Yesus, yaitu mewartakan Injil. Begitu pentingnya hal ini, Rasul Paulus pernah menandaskan hal yang sama, “celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil.” (1Kor. 9:18)

Semangat Mewartakan Kabar Baik

Tugas mewartakan Injil atau kabar baik adalah tugas dan panggilan anak-anak Allah. Yesus yang adalah Anak Allah mengajar para murid untuk mewartakan kabar baik ke seluruh dunia. Ia mengajak muridnya untuk tidak hanya mewartakan kebaikan keluarga atau lingkungan tertentu Yesus ingin sesuatu yang lebih, yaitu supaya baik juga Injil dirasakan oleh orang-orang di daerah lain. Dengan semangat dan antusias, Yesus mengajak muridnya untuk berangkat pagi hari.

Semangat mewartakan kabar baik, pertama-tama bersumber dari relasi dengan Allah. Melalui kedekatan dengan sang sumber kebaikan, anak-anak dimampukan menjadi pewarta kabar baik. Hal ini tampak dalam diri Yesus yang menjalin relasi dengan bapa dalam doa. Pagi-pagi benar, ia telah berjumpa dan menimba kebaikan dari Allah Bapa-Nya. Dari Bapalah, Yesus memiliki semangat untuk berbuat dan mewartakan kebaikan. Tanpa terkait pada kedekatan emosional manusiawi semata. Pembelajaran inilah yang penting bagi seluruh umat Allah dan terlebih sebagai pengikut Kristus. Jalan doa adalah sumber semangat bagi para pewarta kabar baik.

Teguh Dalam Pewartaan

Percaya dalam tindakan Roh Kudus harus selalu memandang kita untuk pergi dan mewartakan Injil, menjadi saksi iman yang berani, tetapi selain dari kemungkinan adanya tanggapan positif terhadap karunia iman, juga ada kemungkinan penalakan terhadap Injil.

Dalam situasi baik ataupun buruk, Injil atau kabar baik harus diwartakan lewat perkataan dan juga perbuatan baik. Semangat itulah yang membedakan antara pekerjaan sosial, dan anak-anak Allah. Semangat untuk mewartakan pertama-tama bukan dari aspek psikologis dan sosial, tetapi aspek rohani yang mendalam. Kesadaran sebagai makhluk rohani yang sadar bahwa segala kebaikan berasal dari Allah semata, akan mendorong anak-anak Allah untuk belajar hal-hal yang sama. Karena kita semua telah menerima apa yang baik dari Allah, maka sudah sepatutnya memberikan apa yang baik kepada sesama dan Allah. (Clovis Mere – IX C).

Weekend10

Meluncur di Tengah Umat

Komunitas SMPS Seminari Santo Yohanes Berkhmans Mataloko mengadakan kegiatan weekend periode kedua. Kegiatan itu berlangsung dari tanggal 8 – 10 Maret 2024. Pada periode kedua ini Seminari Mataloko mengunjungi Paroki Santo Joanne Baptista Wolosambi setelah pada periode pertama tahun lalu mengunjungi Paroki Santo Fransiskus dan Santa Clara Aimere. Kegiatan weekend ini merupakan kegiatan berpastoral di tengah umat yang melibatkan siswa kelas IX, kelas VIII, beberapa dari kelas VII dan para guru dan pembina.

Kegiatan ini dilakukan bukan untuk berekreasi, jalan-jalan semata, menikmati pemandangan tetapi membantu seminaris belajar mewartakan dan memberi kesaksian tentang hidup di Seminari sembari membangun kembali motivasi panggilan para seminaris dalam menjalani pendidikan sebagai calon imam.

Di paroki Wolosambi, para seminaris dibagi di setiap Stasi dan KUB. Itulah yang menjadi tantangan baru bagi masing-masing seminaris. Berusaha untuk beradaptasi dengan kebudayaan sekitar dan aktivitas harian masyarakat yang terkadang berubah-ubah membuat tantangan  semakin besar, tetapi hal itu tidak mematahkan semangat kami untuk bersaksi.

Selama weekend, kami tinggal di Stasi Sukamaju tepatnya di KUB Pohon Kehidupan dengan bapak Yosep Die sebagai ketua stasi. Keberadaan kami selama di sana, memang sedikit mengganggu kegiatan setiap keluarga yang menerima kami. Tetapi kami tetap diterima dengan baik oleh mereka. Mendapatkan perhatian yang begitu penuh dari bapa dan mama asuh dan anggota KUB, saya merasa semacam berada di rumah sendiri. Kami diperlakukan layaknya anak kandung. Walaupun terdapat banyak kekurangan tetapi mereka tetap memberikan yang terbaik dari apa yang mereka miliki.

Di sana kami juga melaksanakan beberapa kegiatan terjadwal seperti katekese bersama umat di KUB, kerja bakti, pertandingan persahabatan dengan SMPN 1 Mauponggo dan ditutup dengan perayaan Ekaristi pada hari minggu. Kegiatan ini lebih banyak melibatkan para seminaris dan umat. Lebih banyak waktu untuk bertukar cerita, berbagi pengalaman dengan umat sekitar.

Selama berada di sana banyak hal yang saya dapatkan, mulai dari pengalaman baru, tempat baru, teman baru dan keluarga baru. Bukan hanya sekedar makan durian, rambutan, tetapi bagaimana kami mencoba masuk sebagai umat dan turut serta ambil bagian dalam setiap kegiatan harian.

Weekend juga menjadi salah satu jalur panggilan bagi siswa-siswa luar yang ingin melanjutkan pendidikan di Seminari. Weekend juga bukan hanya untuk kepentingan para seminaris. Tetapi juga untuk keberlangsungan pendidikan di Seminari Mataloko yang selaras iman dan selaras zaman. (Brian Lenga – IX B)

Weekend3

Mewartakan Kasih di bawah Kaki Ebulobo

Pengembangan diri selanjutnya setelah proses pendidikan akademik adalah kegiatan weekend. Kegiatan ini dikhususkan bagi siswa Seminari. Weekend – demikian nama kegiatan pastoral di atas, merupakan salah satu program unggulan asrama yang mulai berjalan pasca Covid-19. Kegiatan ini dirancang oleh tim prefek agar dapat menjadi sarana pengembangan diri bagi seminaris, khususnya dalam bidang pewartaan dan sosialisasi bersama umat. Tujuan kegiatan ini juga untuk mempererat motivasi panggilan para calon imam.  

Terhitung mulai dari Jumad, tanggal 8 Maret 2024 hingga Minggu, tanggal 10 Meret 2024, pihak SMPS Seminari Santo Yohanes Berkhmans Mataloko telah melaksanakan kegiatan pastoral di Paroki St. Joanne Baptista, Wolosambi.

Adapun kegiatan weekend ini meliputi jalan salib, katekese dan perayaan Ekaristi bersama umat. Menariknya, weekend tidak hanya berpusat pada kegiatan rohani saja. Pasalnya, pihak Seminari telah melaksanakan kerja sama dengan SMPN 1 Mauponggo. Pertandingan persahabatan pada cabang olahraga (sepak bola dan bola voli).

“Dalam pertandingan bersama teman-teman dari SPENSA, saya merasa gugup. Rasa ini muncul karena pertama kalinya saya dan tim voli Berkhmawan berhadapan dengan anak-anak pantai yang dikenal sebagai pemain voli yang ulung”, ujar Tom Naba, salah satu seminaris yang bergabung dalam tim voli Berkhmawan Junior, kala diwawancarai pada Selasa, 12 Maret 2024.

Meskipun mengalami kekalahan pada pertandingan persahabatan tersebut, para pemain voli Berkhmawan Junior tetap menunjukkan sportivitas dan solidaritas terhadap teman-teman dari SMPN 1 Mauponggo.

Selain pertandingan persahabatan, pihak paroki juga menggalang kerja bakti bersama seminaris di beberapa lokasi, mulai dari Gereja, halaman paroki, kebun paroki, kapela setiap stasi, dll. Melalui kegiatan ini diharapkan para seminaris dapat memetik nilai-nilai persaudaraan, kerja sama dan motivasi baru dalam menapaki jalan panggilan, sehingga weekend tidak hanya menjadi event belaka, tetapi dapat membekas dan memberikan makna bagi setiap seminaris.

Selama berpastoral, seminaris disambut dan diterima dengan baik oleh umat KUB dan keluarga tempat mereka menginap. Sambutan umat dalam kegiatan juga memuaskan para seminaris, khususnya kebutuhan perut. Para seminaris disuguhkan aneka buah hasil kebun umat dari Paroki Wolosambi. Setidaknya, kebutuhan rohani dan jasmani seminaris terpenuhi melalui tangan kasih dan diwarnai senyuman hangat dari seluruh umat paroki St. Joanne Baptista, Wolosambi.

Dalam sambutannya, Clovis Mere selaku perwakilan dari para seminaris mengatakan, “Sebelum kami masuk dalam keluarga, kami telah merasakan kehangatan kekeluargaan itu kala disambut dan diterima oleh Pastor Paroki dan para ketua stasi.” Kekeluargaan sendiri merupakan tempat permata dan terutama dalam pembentukan karakter pribadi seseorang. Hal itu, penting bagi para calon imam agar dapat merasakan pendidikan dalam keluarga sebagai bekal dalam menghadapi dunia luar.

Melalui kegiatan ini seminaris dipersiapkan dan dilatih secara mental agar dapat mempersiapkan kondisi ;pastoral yang berbeda-beda di tengah umat. Hidup bersama umat juga membantu seminaris agar dapat memahami arti cinta kasih kepada sesama. Kasih adalah suatu pemberian yang paling berharga yang pernah dihadirkan Tuhan kepada manusia. Oleh karena itu, marilah kita saling berbagi kasih dengan sesama yang ada di sekitar kita. Kiranya weekend dapat mengajarkan kita untuk mendasari seluruh jalan panggilan kita dengan semangat cinta kasih (Anjelo Jago, IX A)                                                                                                                            

Testing

Seminari Langsungkan Testing Penerimaan Siswa Baru

Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko melangsungkan testing penerimaan siswa baru untuk tahun pelajaran 2024/2025, Sabtu (16/03).

Testing ini merupakan testing tahap kedua yang bertempat di Seminari Todabelu Mataloko dan diperuntukkan bagi calon seminaris asal Kevikepan Bajawa, Kevikepan Mbay, dan dari luar Keuskupan Agung Ende. 

Sebelumnya, testing tahap pertama yang diperuntukkan bagi calon seminaris asal Kevikepan Ende dan dari luar Keuskupan Agung Ende, telah dilaksanakan di Rumah Bina Olangari, Jalan Melati Ende, Senin (11/03).

Sekretaris Panitia Testing, Pak Kris Bata menyampaikan bahwa calon seminaris yang mengikuti tes berjumlah 146 orang.

“Jumlahnya sebanyak 146 orang. Untuk testing tahap pertama yang dilaksanakan di Ende; calon siswa SMP sebanyak 50 orang dan 3 orang untuk siswa KPB.

Untuk tes kedua di Mataloko hari ini; calon siswa SMP sebanyak 89 orang dan 4 orang untuk calon KPB,” ungkap Pak Kris.

Jumlah ini kemungkinan akan bertambah seiring bertambahnya jumlah calon seminaris yang masuk Kelas Persiapan Bawah (KPB) yang pendaftarannya masih terus dibuka hingga akhir Juni 2024.

Bagi calon seminaris yang masuk KPB diberi kekhususan oleh pihak Seminari untuk masuk Seminari tanpa melalui jalur tes tertulis.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Panitia Testing, RD. Beni Lalo dalam perjumpaannya dengan para calon seminaris dan orang tua/wali calon seminaris di awal testing tahap kedua di Aula SMPS Seminari Mataloko.

“Seminari beri kekhususan untuk mereka untuk masuk tanpa melalui tes tertulis. Mereka hanya mengikuti tes wawancara. Karena itu, para calon siswa KPB yang datang pada hari ini; kamu harus berbahagia. Kamu tentu pasti lulus. Ya, jikalau ada penyakit seperti hepatitis, tentu itu menjadi halangan tersendiri. Kita beri kekhususan ini, mengingat jumlah siswa KPB yang menurun selama beberapa tahun terakhir,” ungkap RD. Beni.

Selain itu, kekhususan juga diberikan kepada calon seminaris yang berasal dari luar Pulau Flores.

“Kita juga beri kekhususan untuk calon seminaris yang berasal dari luar Pulau Flores. Mereka tidak mengikuti tes wawancara dan tes tertulis. Mereka hanya mengirimkan biaya kontribusi untuk panitia testing. Kita pahami, karena jarak dan biaya yang juga tidak mudah untuk sampai ke dua tempat tes ini”, terang RD. Beni.

Dalam perjumpaannya dengan para calon seminaris dan orang tua/wali calon seminaris di akhir testing, Romo Beni menyampaikan bahwa hasil testing akan dikirim ke Paroki masing-masing calon seminaris dan akan diumumkan oleh Pastor Paroki saat Minggu Paskah atau satu Minggu setelah Pekan Suci. (Bayu Tonggo).

Prakarya4

DARI INSTRUKTUR MENJADI GURU

Catatan Bapak Ronny Pulu

Menjadi guru adalah sebuah panggilan mulia untuk mendidik anak bangsa. Itulah profesi yang saya jalani saat ini. Namaku Heronimus Aloysius Pulu yang biasa disapa Ronny. Aku berkarya di sebuah lembaga pendidikan calon imam Katolik yang lazim disebut seminari yaitu Seminari Menengah St. Yoh. Berkhmans Mataloko. Lembaga pendidikan ini merupakan sekolah berasrama khusus laki-laki yang didirikan oleh para misionaris Eropa pada tahun 1929. Sebuah sekolah tua yang menyisakan sedikit arsitektur bangunan bergaya Eropa dan terletak di wilayah Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Letaknya cukup strategis karena berada pada jalur utama jalan penghubung antara kota-kota kabupaten di daratan pulau Flores. Selain itu udaranya yang sejuk dan cenderung dingin semakin menambah kenyamanan sebagai sebuah taman pendidikan. Walau sering dijuluki sebagai kota kabut dengan curah hujan yang cukup tinggi, Mataloko menjadi pilihan bagi beberapa lembaga pendidikan lainnya pada berbagai jenjang. Kondisi yang mungkin mirip seperti di Eropa ini bisa saja menjadi alasan berpindahnya lembaga pendidikan calon imam Katolik ini dari Lela yang berhawa panas, sebuah tempat di pesisir selatan pulau Flores pada wilayah kabupaten lainnya. Seminari tingkat menengah ini terdiri dari jenjang SMP dan SMA. Aku menjadi salah satu guru di tingkat SMP yang berasal dari kalangan awam (non imam) di antara sejumlah guru awam dan beberapa imam Katolik serta frater (calon imam) yang sedang menjalani masa orientasi pastoralnya.

Sebelum menjadi guru, aku pernah beberapa tahun berkarya di lembaga ini sebagai instruktur yang mendampingi para siswa seminari (seminaris) tingkat SMA dalam membuat berbagai benda kerajinan pada Sanggar Kreasi Berkhmawan. Sebuah kerja tangan yang harus dicintai oleh para seminaris sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan ini. Sebagai instruktur aku sangat menikmati pekerjaan ini karena sesuai dengan minat dan bakatku. Berbagai limbah alam yang terbuang mudah didapatkan, seperti kayu, kaca, ataupun bambu. Aku bisa memanfaatkannya menjadi sesuatu benda yang menarik. Ada kepuasan bathin tatkala hasil karyaku dijadikan model untuk ditiru oleh para seminaris. Bahkan beberapa kali hasil karya kami dipamerkan pada ajang tertentu baik di sekolah ini maupun pada tingkat kabupaten.

Selama mendampingi para seminaris, banyak hal yang aku alami, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, bahkan bisa memicu kemarahan. Peralatan kerja milik sanggar kadangkala menjadi rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Cara menggunakan alat kerja juga kadang harus aku tunjukkan karena menjadi hal yang baru bagi mereka. Bahan-bahan habis pakai yang disediakan kadang digunakan seenaknya tanpa aturan. Memang perlu penguasaan diri yang cukup untuk menghadapi ulah seminaris yang seperti itu. Kesabaran mutlak sangat diperlukan. Peralatan kerja yang digunakan cukup beresiko bahkan bisa membahayakan. Pengawasan harus terus dilakukan sehingga bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Siswa bangga mempertontonkan replika rumah adat.

Aktivitas kerja tangan harus dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan, bukan paksaan. Karena sesuatu yang dibuat karena terpaksa tentu akan menghasilkan sesuatu yang tidak maksimal. Membuat suatu benda kerajinan akan berhasil baik bila dikerjakan dengan hati. Silakan berkreasi sesuai dengan keinginan. Dua hal ini selalu aku tekankan pada seminaris. Dengan demikian mereka menjadi lebih kreatif, lebih cermat dan teliti, serta bertanggung jawab terhadap bahan dan peralatan yang digunakan. Kadang kala aku mengajak para seminaris mengevaluasi hasil karyanya secara detail, sehingga mereka bisa menyadari kekurangan untuk diperbaiki. Rasa bangga terpancar dari wajah-wajah mereka bila aku memuji. Hal ini semakin terlihat apabila hasil karyanya masuk nominasi untuk dipamerkan.

Sejak sepuluh tahun yang lalu aku dipercayakan menjadi guru untuk mata pelajaran Prakarya. Aku yang awalnya hanya berkutat dengan gergaji, mesin serut, bor, palu, dan peralatan tukang lainnya harus membiasakan diri dengan buku, spidol, laptop, dan urusan administrasi lainnya yang berhubungan dengan perangkat pembelajaran. Sebuah kepercayaan yang harus bisa dibuktikan dengan kerja nyata dalam peran sebagai guru. Memang awalnya terasa berat sekali karena aku sama sekali tidak memiliki kompetensi akademik dan pengalaman sebagai guru. Perlu perjuangan ekstra untuk masuk dalam kategori guru apalagi menjadi guru yang baik dan berkualitas. Namun lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan sungguh sangat membantuku sehingga bisa beradaptasi dengan peran yang baru.

Aku harus membiasakan diri untuk menyiapkan perangkat dan materi pembelajaran, masuk kelas tepat waktu, membantu siswa dengan berbagai cara agar bisa memahami materi ajar, dan menjalankan tugas lainnya dengan penuh tanggung jawab. Sesekali aku tetap mendampingi siswa dalam kerja praktik Prakarya walau tidak lagi menggunakan ruang sanggar karena berbeda lingkungan kerjanya. Bukan sekedar mendampingi, tetapi harus bisa menilai proses dan hasilnya. Dahulu berurusan dengan ‘perangkat keras’, sekarang berurusan dengan ‘perangkat lunak’. Demikian kalimat yang pernah aku dengar dari salah seorang alumnus yang pernah menjadi siswaku.

Seorang guru tentu membutuhkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak serta memiliki kematangan emosional. Menguasai diri dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan menjadi suatu keharusan. Para seminaris di sekolahku berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, dengan berbagai latar belakang keluarga yang berbeda, dengan kultur yang kadang berbeda pula, dan sebagainya. Karena itu, dengan penuh kesabaran guru harus mampu mengelola kelas dengan baik, memberikan contoh dan teladan yang baik pula kepada para siswanya. Guru harus mampu mengarahkan para siswanya untuk saling menghormati perbedaan, dan berperilaku positif lainnya. Para siswa diharapkan untuk bisa memiliki karakter yang baik dan terus berusaha memperbaiki diri dari hari ke hari. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Besok harus lebih baik dari hari ini.

Densi1

BEKERJA SAMBIL BELAJAR

Catatan Ibu Densiana Mala

Latar  belakang pendidikan saya adalah sekolah menengah kejuruan di bidang pertanian. Tujuan awal saya melamar pekerjaan adalah sebagai karyawan di PT Cengkeh Malanuza milik Keuskupan Agung Ende yang berlokasi di Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Provinsi NTT. Kurang lebih setahun saya bekerja di PT Cengkeh. Dalam perjalanan waktu, kesehatan saya terganggu sehingga saya tidak bisa untuk selalu berada di lapangan. Lalu saya dipindahtugaskan ke Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Mataloko yang juga menjadi milik Keuskupan Agung Ende.

Seminari ini merupakan lembaga pendidikan khusus tingkat menengah untuk para siswa calon imam Katolik (seminaris). Di dalam lembaga  ini ada dua sekolah berasrama untuk SMP dan SMA. Semua seminaris yang dididik di kedua jenjang sekolah ini terdiri dari laki-laki saja. Dalam kehidupan berasrama para seminaris didampingi oleh para imam Katolik. Sedangkan di sekolah ada sejumlah tenaga pendidik dan tenaga kependidikan non imam (awam), baik guru negeri maupun guru swasta. Ada yang laki-laki dan ada juga guru-guru perempuan. Para imam Katolik yang menjadi pembina di asrama juga menjadi guru sesuai dengan kompetensi masing-masing. 

Nama saya Densiana Deu Mala yang biasa disapa Densi. Pada saat itu kepada saya ditawarkan dua pilihan, yaitu sebagai tenaga kependidikan di perpustakaan dan di laboratorium. Akhirnya saya lebih memilih perpustakaan karena saya suka baca novel. Jadi sejak tahun 1994 saya menjadi pustakawati di perpustakaan Seminari Mataloko dan menangani urusan buku yang berkaitan dengan kebutuhan para siswa dan guru SMP.

 

Awal mula bekerja di perpustakaan saya merasa bingung mau memulai dari mana, karena saya belum mengenal sistem yang harus digunakan supaya buku-buku yang ada di perpustakaan dapat dipinjamkan. Namun kebingungan itu tidak bertahan lama karena saat itu sudah ada pegawai senior bernama Ibu Lis yang sudah lebih dahulu bekerja di perpustakaan itu. Saya banyak belajar dari beliau, dan  juga dari buku-buku bacaan tentang bagaimana mengelola perpustakaan sekolah.

 Kedatangan  Romo Nani Songkares, Pr. , seorang imam Katolik sekaligus guru bahasa Inggris pada tahun 1998, telah membawa angin segar untuk kami staf perpustakaan. Dia dipercayakan menjadi kepala perpustakaan selain juga menjadi salah satu pembina bagi para seminaris dalam kehidupan berasrama. Sebagai kepala perpustakaan dia menjalin kerja sama dengan perpustakaan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero di Maumere Flores. Dia mendatangkan pengelola perpustakaan Seminari Tinggi  Ledalero yaitu Bapak Stefanus Meo, yang sudah ahli dalam mengelola perpustakaan. Kami diberi pelatihan mengelola perpustakaan dengan menggunakan sistem Dewey Decimal Classification, sebuah sistem pengelolaan yang masih digunakan sampai saat ini. Setelah pelatihan itu, saya baru menyadari bahwa bila bekerja di perpustakaan harus membiasakan diri untuk membuka dan membaca buku. Tidak harus semua halaman, tetapi paling kurang daftar isi atau sinopsisnya agar dapat menentukan tema buku yang akan ditempatkan di rak buku sesuai sistemnya. Jadi ribuan buku yang dikoleksi oleh perpustakaan ini harus kami cermati. Dengan demikian, jika ditanya oleh para pengguna perpustakaan  yang membutuhkan sumber bacaan sesuai keinginannya, maka dengan mudah kami dapat menemukan buku yang dimaksud.

Dalam pemikiran sebagian orang, yang bekerja di perpustakaan adalah orang buangan yang tidak mampu bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Dalam pemikiran mereka, kerja di perpustakaan berarti hari-hari pikul buku, susun buku dan lain lain yang tentu akan membosankan. Tetapi bagi saya pribadi, bekerja di perpustakaan adalah hal yang luar biasa dan membanggakan, karena setiap hari saya bekerja sambil belajar secara gratis. Di sela jam kerja pasti ada waktu kosong yang selalu saya gunakan untuk membaca buku walau tidak sampai tuntas. Selalu ada hal-hal baru yang saya dapatkan dari buku. Dan saya merasakan bahwa buku adalah guru yang paling istiwewa, yang mengajarkan banyak hal sesuai apa yang saya inginkan.

Pada tahun 2011, saya diberi kesempatan oleh pimpinan lembaga pendidikan ini untuk kuliah jurusan perpustakaan. Sekolah  menyadari bahwa salah satu poin penilaian dalam akreditasi sekolah adalah keberadaan tenaga perpustakaan yang berkualifikasi diploma perpustakaan. Saya sangat antusias dan senang sekali karena Komite sekolah menyanggupi untuk menanggung sebagian dari biaya kuliah saya. Universitas Terbuka menjadi pilihan saya untuk kuliah, sehingga tugas utama di perpustakaan tidak terabaikan. Dalam menjalani proses perkuliahan saya mendapat banyak kemudahan dalam belajar. Ada beberapa modul mata kuliah yang tidak bisa saya dapatkan. Namun buku-buku di perpustakaan Seminari masih bisa menjadi sumber pengganti modul-modul tersebut. 

Kehadiran para imam Katolik sebagai pembina seminari dengan berbagai kompetensi keilmuan yang mereka miliki sungguh sangat memperperkaya saya dalam banyak hal selama keberadaan saya di lembaga ini.. Saya yang dulunya sangat tidak peduli dengan disiplin menjadi sadar bahwa disipilin itu adalah harga mati karena hanya dengan disiplin saya bisa berubah menjadi lebih baik. Memulai dari diri sendiri, memulai dari hal yang kecil, memulai dari sekarang dan tidak menunda. Selain itu, keberadaan guru-guru awam senior telah banyak mengajarkan kepada saya, bagaimana harus bekerja dengan hati bagi para siswa seminari karena merekalah calon imam dan penerus masa depan gereja Katolik dan bangsa Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, tidak terasa sudah 30 tahun saya bekerja sebagai pegawai perpustakaan Seminari Mataloko. Saya sering mendapat pertanyaan demikian, “Ibu Densi masih betah juga kerja di seminari?”  “Untuk apa ke tempat lain? Karena bagi saya, Seminari adalah rumah  kedua setelah rumah orang tua.” Demikian jawabanku. Ada lagi pertanyaan lain, “Ibu Densi tidak banyak berubah sejak kami masih sekolah di Seminari sampai sekarang.” Saya balik bertanya apa maksudnya. “Maksudnya wajah ibu tidak banyak berubah,” jawab mereka. Sambil tersenyum saya menjawab. “Jangan pura-pura tuh supaya  membuat ibu senang sesaat. Memang ibu sangat menikmati pekerjaan  ini karena sambil bekerja ibu juga belajar.”

Sebagai orang yang sudah dipercayakan sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, saya berusaha untuk selalu bekerja dengan hati. Kalau kita benar bekerja dengan hati kita akan menemukan kebahagiaan dan kepuasan batin, sehingga seberat apapun tantangan dalam mengemban tugas pasti bisa kita lewati.

Saya berusaha jalin relasi yang baik dengan rekan kerja karena saya percaya, hubungan antar pribadi adalah perpustakaan hidup tempat kita menjadi dewasa. Tanpa tantangan dan rangsangan serta interaksi kita dengan sesama, kepribadian kita tidak berkembang dan berubah (Penulis adalah Pustakawati SMPS Seminari Mataloko)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

RP1b

MAU BELAJAR PASTI BISA

Catatan Bpk. Heronimus Aloysius Pulu

Konsep belajar sepanjang hayat (long life learning) akan terus berlangsung sepanjang kehidupan setiap orang termasuk diriku. Sesuatu hal yang baik pasti banyak ujian dalam melakukan. Namaku Heronimus Aloysius Pulu yang biasa disapa Ronny. Aku adalah seorang guru pada SMPS Seminari St. Yoh. Berkhmans Mataloko yang terletak di wilayah Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebenarnya aku tidak layak disebut sebagai guru karena hanya bermodalkan  ijazah SMA. Aku sempat berada di tingkat akhir namun tidak sampai menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Lagi pula bidang yang kugeluti di perguruan tinggi tidak berkaitan dengan pendidikan di sekolah, sehingga jauh dari kompetensi seorang guru. Namun demikian, karena kuasa Tuhan dan terdorong oleh semangat belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan, sudah hampir 18 tahun aku berada dan mengabdi di almamaterku ini. Pada awalnya, aku dipercayakan sebagai instruktur pada sanggar seni keterampilan Berkhmawan. Lalu kemudian aku dipercayakan menjadi guru untuk mata pelajaran Prakarya dan Bahasa Latin .

Sekolahku merupakan bagian dari sebuah lembaga pendidikan calon imam Katolik yang bernama Seminari Menengah St. Yoh. Berkhmans Todabelu Mataloko, sebuah sekolah berasrama untuk jenjang SMP dan SMA yang pada tahun ini berusia 94 tahun. Walaupun sebagai lembaga pendidikan khusus, sekolah ini tetap menjalankan kurikulum pemerintah (Kurikulum Merdeka) selain kurikulum khusus Seminari yang menjadi kekhasan semua seminari di seluruh Indonesia. Salah satu mata pelajaran khusus Seminari adalah Bahasa Latin, sebuah bahasa baku yang dikenal menjadi induk beberapa bahasa di Eropa dan sering digunakan dalam liturgi gereja Katolik. Sungguh tidak disangka bahwa sejak dua tahun lalu aku mendapat kepercayaan untuk mengampu mata pelajaran ini yang lazim dijalani oleh seorang imam atau frater (calon imam tingkat perguruan tinggi).

Sebagai guru Bahasa Latin yang mungkin pertama dari kalangan awam yang terjadi di sekolah ini, aku beranikan diri untuk menerima tantangan ini. Walau hanya bermodalkan secuil pengetahuan dasar tentang Bahasa Latin. Memang aku pernah belajar saat menjadi seminaris pada 40-an tahun silam. Aku meyakini bahwa sesulit apa pun itu pasti bisa dipelajari asalkan memiliki tekad yang kuat untuk belajar.

Pada titik ini aku bersyukur bahwa materi dalam buku panduan masih tetap sama seperti dahulu saat aku baru mulai mengenal Bahasa Latin. Lagi pula sebagai salah satu dari sekian ribu alumni yang kembali mengabdi di lembaga ini tentunya aku memiliki kewajiban moral untuk tetap mempertahankan eksistensi dan kontinuitas lembaga pendidikan calon imam Katolik ini. Nilai-nilai kehidupan yang selalu ditanamkan dalam diri para seminaris dan sudah kami rasakan manfaatnya harus terus dipertahankan dan ditingkatkan dari hari ke hari.

Bisa berkomunikasi dalam suatu bahasa asing tentu menjadi sesuatu yang menarik, sehingga menggugah orang untuk mau memelajarinya. Bahasa Latin tidak seperti bahasa asing lainnya yang bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hal ini tentunya menjadi tantangan untuk bisa meyakinkan para siswa agar mau belajar Bahasa Latin, sebuah bahasa baku yang nyaris tidak digunakan sebagai bahasa percakapan. Para seminaris selalu diingatkan bahwa jika kita menguasai Bahasa Latin maka kita akan mudah memelajari beberapa bahasa lain di Eropa seperti Italia, Perancis, Spanyol, dan Jerman.

Pembelajaran di kelas harus menarik minat siswa. Dalam rangka menggugah semangat belajar para seminaris, semua materi aku kemas dalam bentuk file powerpoint dengan animasi yang menarik. Untuk bisa berbahasa asing tentunya harus menguasai tata bahasa dan kosa katanya. Dalam perjalanan waktu ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam mengingat kosa-kata dan gramatika Bahasa Latin. Selain dibuatkan latihan yang berulang-ulang pada lembar kerja, beberapa materi penting juga dikemas dalam bentuk lagu dan dinyanyikan bersama (kadang aku iringi dengan alat musik). Pada saat tertentu juga aku menyediakan waktu untuk bimbingan pribadi bagi seminaris yang mengalami kesulitan, baik di dalam kelas maupun di tempat lain yang memungkinkan.

 Aku belajar sambil mengajari siswa. Tidak ada sesuatu yang sulit yang tidak bisa dipelajari, asal ada kemauan dan tekad yang kuat. Ada yang bisa dalam waktu singkat, dan ada yang membutuhkan lebih banyak waktu agar bisa. Teman-teman guru yang tentunya lebih memiliki kompetensi harus mampu memahami kelebihan dan kekurangan setiap siswa, membimbing dan mendampingi dengan tulus hati.

Aku selalu merasa bahwa para siswa adalah anak/adik/cucuku. Aku berusaha memperlakukan mereka secara baik dengan penuh kasih. Aku berusaha menunjukkan keteladanan yang layak dicontohi karena aku sadar guru itu untuk digugu dan ditiru. Aku berusaha menjadikan diriku guru yang disenangi siswanya, bukan guru yang menakutkan. Aku mengalami, bila siswa menyukai guru maka mereka akan menyukai pelajarannya. Mereka akan berusaha mencerna dengan baik apa yang kita sampaikan.

Taize1

SEMBAH BAGI-MU DALAM HENINGNYA DOAKU

Oleh: Anjelo Jago (IX A)

Taize merupakan kegiatan rohani yang sudah tidak asing lagi di telinga para seminaris. Pasalnya, ibadat taize telah menjadi satu event pokok dalam kalenderium asrama SMPS Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko dalam bidang pengembangan rohani. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan agar para seminaris dapat meningkatkan spiritualitas hidup rohani ke arah yang lebih baik. Dalam kegiatan ini, seminaris dituntut agar dapat mengalahkan rasa kantuk dan memusatkan seluruh perhatian kepada Firman Allah serta renungan yang dibawakan oleh Frater yang memimpin ibadat taize.

Makna dan Pengertian Taize

Ibadat Taize adalah bentuk ibadat yang unik dan menarik, yang berasal dari desa Taize, sebuah desa kecil di Perancis yang terletak di wilayah Burgundy. Ibadat Taize dikenal karena musiknya yang khas, dengan lagu-lagu yang sederhana, ringkas, dan diulang-ulang dengan irama yang tenang dan mengalun. Ibadat ini dimulai dengan waktu kesunyian yang cukup lama, kemudian dilanjutkan dengan bacaan dari Alkitab dan doa-doa yang dipimpin oleh seorang pemimpi ibadat. Musik menjadi bagian penting dari ibadat Taize, yang membekali suasana yang tenang dan hening, serta memperluas hubungan antara umat dengan Tuhan.

Ibadat Taize mendorong konsep kebersamaan, persatuan, dan kedamaian antara umat manusia, serta kesederhanaan dan keheningan dalam beribadat. Selain itu, ibadat ini juga mempromosikan pentingnya meditasi dan kontemplasi dalam proses ibadat. Ibadat Taize telah menjadi salah satu bentuk ibadat yang popular di seluruh dunia, dan seringkali diadakan dalam acara-acara ekumenis atau interfaith.

Mencari Diri-Nya Melalui Doa

Pada kesempatan kali ini, tema renungan yang diangkat adalah “Bagaimana Mencari Sebuah Tempat Bernama Surga”? Di zaman yang penuh dengan kemudahan ini, berbagai tempat dapat ditelusuri dengan bantuan google maps. Mau sekolah, tempat wisata, semua tempat pasti akan terjangkau dengan mudahnya. Tapi, apakah google maps dapat menjangkau sebuah tempat bernama ‘Surga’?

Tentu, jawabannya tidak. ‘Surga’ mempunyai google maps-nya sendiri. Google maps yang hanya dapat dipakai melalui doa dan karya kita di dunia, kendati google maps tersebut tidak muncul dalam bentuk aplikasi di handphone atau gadget yang kita miliki. Maksudnya, kita hanya dapat menemukan ‘Surga’ apabila kita dapat memaksimalkan doa dan amal bakti kita selama berada di dunia. Surga adalah tempat yang diinginkan oleh semua orang beriman, namun sulit untuk dicapai lantaran kita sendiri yang menjauhkan diri dari tempat tersebut.

Surga bukan hanya nama sebuah tempat di alam baka. Kata ini juga bertindak untuk menyatakan kondisi pribadi dan lingkungan bagi sesama. Kondisi yang disebut surga adalah kondisi dimana kita dapat mewujudkan situasi yang kondusif bagi sesama menuju perdamaian.

Mewujudkan Surga Melalui Heningnya Doa

Kita dapat mewujudkan ‘kondisi Surga’ melalui banyak cara. Salah satunya adalah melalui cara menciptakan keheningan. Keheningan dapat dinyatakan sebagai perwujudan dari seseorang yang dapat mengondisikan suara.

Taize membantu kita agar dapat mencapi keheningan dalam doa. Dengan mencapi kehenigan, seorang seminaris dapat masuk lebih dalam melalui doa. Pendalaman doa membantu seminaris agar dapat memperat hubungan dengan Allah.

Selain keheningan, taize juga mengajak seminaris untuk mengalahkan rasa kantuk, yang kita ketahui bersama sebagai momok dalam setiap aktivitas rohani di lembaga ini. Kiranya, taize dapat menjadi sarana bagi para seminaris agar dapat mengesampingkan nafsu ragawi, dan berfokus pada keilahian Sang Pencipta (Editor: Fr. Orsan, OFM)