Pengasuhan Digital bagi Seminaris Diaspora

Sejak dipulangkan ke rumah masing-masing pada akhir Maret lalu, praktisnya sebagian besar proses formasi anak-anak Seminari Santu Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko berlangsung melalui metode Dalam Jaringan (Daring).

Pengasuhan digital dari orang tua, pihak seminari, para pastor dan para mitra menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Dalam rimba raya jaringan internet, para seminaris diaspora ini perlu didampingi dan diasuh.

Dialog aktif antara anak dan orang tua, para pastor dan para mitra menjadi kunci keberhasilan pengasuhan digital untuk para seminaris diaspora. Tingkat keseringan berkomunikasi antara kedua pihak ini harus berbanding lurus dengan banyaknya waktu yang digunakan anak untuk berselancar di dunia maya.

Ketika durasi “berada di depan layar” kian meningkat, partisipasi aktif orang tua, para pastor dan para mitra dalam membangun komunikasi dengan anak harus ditingkatkan pula.

Mengapa Penting?

Pertama, situasi sekarang memaksa anak-anak seminari melakukan banyak aktivitas Daring, terutama untuk mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain itu, interaksi untuk proses formasi sebagai calon imam juga terjadi melalui media-media Daring.  Kedua tuntutan ini menyebabkan durasi waktu untuk cemplung ke dalam dunia digital semakin tinggi.

Kedua, jagat maya merupakan jagat yang sama sekali asing bagi sebagian besar anak-anak seminari. Dalam situasi normal, mereka dilarang menggunakan HP dan tidak memiliki akses ke dalam dunia maya dengan segala kemungkinan-kemungkinannya yang tidak terbatas. Dalam era kenormalan baru ini, mereka diwajibkan memiliki HP dan keahlian berselancar di dunia maya untuk melayani kepentingan formasi.

Ketiga, internet selalu berwajah ganda. Di satu sisi, akses ke dalam internet meningkatkan literasi dan wawasan anak. Di sisi lain, dalam internet terdapat sejumlah tantangan yang mengancam perlindungan dan hak anak seperti perundungan digital dan pencurian data pribadi (KOMPAS, 21/06/2020). Dampingan orang tua, para pastor dan para mitra mutlak perlu untuk meminimalisasi kejahatan siber dalam berbagai levelnya.

Keempat, alasan terkait etika digital. Walaupun memiliki banyak kesamaan, etika digital dan etika dunia nyata tetap memiliki perbedaan. Dalam dunia digital, segala sesuatu pasti meninggalkan jejak. Selain itu, semuanya serba terbuka. Oleh karena itu, anak-anak perlu mendalami etika digital dan selalu diingatkan untuk mematuhi etika-etika tersebut.

Kelima, anak-anak perlu dilindungi dari pelbagai variasi bahaya informasi-informasi palsu. Semua orang memiliki akses ke dalam internet dan oleh karena itu berbagai jenis informasi, entah itu benar atau salah, entah itu baik atau buruk, berseliweran dalam berbagai platform media-media Daring. Kontrol orang tua, para pastor, dan para mitra membantu anak-anak dalam proses penyaringan dan internalisasi informasi-informasi tersebut.

Peran Sentral Orang tua, Para Pastor dan Para Mitra

Orang tua, para pastor dan mitra memiliki peran penting dalam pengasuhan digital bagi para seminaris diaspora. Peran tersebut dapat dijalankan melalui kehadiran dan dialog aktif. Spritualitas kehadiran dan dialog aktif menjadi kunci keberhasilan proses-proses pengasuhan digital. Oleh karena itu, orang tua, para pastor dan para mitra wajib memberikan teladan dan panutan.

KOMPAS (20/06/2020) meringkas tiga lapisan yang harus dimiliki sebuah keluarga ketika (anak-anaknya) harus mencemplungkan diri ke dalam dunia digital.

Lapisan pertama adalah kesadaran akan pentingnya keselamatan, keamanan, dan privasi. Lapisan kedua adalah literasi media agar bijak menyikapi informasi palsu serta menilai kebenaran konten. Lapisan ketiga menyangkut kesadaran tentang hak dan tanggung jawab.

Orang tua, para pastor, dan para mitra memiliki kewajiban dan tanggung jawab membangun ketiga lapisan kesadaran tersebut. Perlu diakui, usaha itu tidak gampang. Oleh karena itu pada bagian berikut direkomendasikan hal-hal praktis yang perlu dibuat.

Langkah-langkah Praktis Pengasuhan

Pertama, kerja dan belajar dalam dan melalui media daring harus dijadwalkan. Orang tua dan para mitra harus melibatkan diri dalam penyusunan jadwal belajar dan kerja anak. Keterlibatan itu juga harus sampai pada tahap pengawasan, apakah jadwal itu ditaati atau tidak.

Kedua, tingkatkan komunikasi langsung dengan anak. Komunikasi itu harus dari muka ke muka dan dari hati ke hati, bukan melalui perantaraan media-media sosial.

Ketiga, ingatkan anak akan kerawanan dan bahaya yang ada di ruang virtual. Banyak bahaya yang bisa saja timbul, misalnya penipuan, kekerasan verbal, pencurian data pribadi, dan perundungan digital.

Keempat, usahakan sebisa mungkin agar menemani anak saat mereka sedang bekerja dan belajar melalui media-media Daring. Pada bagian ini, sekali lagi ditekankan pentingnya spiritualitas kehadiran bagi seorang anak.

Kelima, orang tua, para pastor, dan para mitra harus selalu mengingatkan anak akan pentingnya menjaga etika bermedia sosial. Etika itu misalnya, selalu menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak saling memaki.

Keenam, sebagai pengasuh, tentu saja orang tua, para pastor, dan para mitra juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang literasi teknologi digital. Oleh karena itu, mau tidak mau, orang tua juga harus mempelajari seluk beluk dunia digital dan segala tuntutan-tuntutannya.

Tommy Duang

Kelas Daring: Adaptasi Baru Pembelajaran di Seminari

Dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 01/KB/2020, Menteri Agama Nomor 516 Tahun 2020, Menteri Kesehatan Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 480-882 Tahun 2020, tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021, ditetapkan bahwa sekolah-sekolah berasrama yang berada di zonah hijau dilarang membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka, sekurang-kurangnya pada dua bulan pertama.

Menyikapi SKB tersebut, dan sesuai kebijakan Pemerintah Daerah Kaubupaten Ngada, SMPS dan SMA Seminari Santu Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko memutuskan untuk menyelenggarakan  pendidikan calon imam dengan metode Dalam Jaringan (Daring) melalui Learning Management System (LMS). Dalam perencanaannya, metode pembelajaran Daring akan berlangsung selama dua bulan awal semester Ganjil 2020/2021, terhitung sejak 13 Juli-13 September 2020.

Dalam konteks dunia pendidikan di Pulau Flores, pembelajaran Daring merupakan sesuatu yang relatif baru. Dibutuhkan suatu persiapan yang sungguh matang agar keberlangsungan proses pembelajaran tetap sesuai dengan tuntutan kurikulum di era kenormalan baru.

Tentang keseluruhan proses persiapan itu, Kepala SMA Seminari Mataloko, Rm. Gabriel Idrus, Pr, mengatakan, “Sejauh ini kita telah mengadakan rapat bersama para bapa ibu guru di tingkat internal dan mengevaluasi persiapan-persiapan kita. Memang kita saat ini dalam kondisi siap meskipun adaptasi-adaptasi itu masih tetap terjadi dalam perjalanan waktu, karena kita berkenalan dengan sesuatu yang baru.”

“Adaptasi itu, baik di tingkat kita sendiri, ke dalam, para bapa ibu guru, yang menyiapkan pembelajarannya maupun juga para siswa kita.  Adaptasi itu menyangkut banyak aspek, baik menggunakan aplikasi ini (Google Classroom) maupun juga situasi secara umum ketika harus melaksanakan pembelajaran Daring.”

Selanjutnya Romo Idrus menambahkan bahwa secara umum sekolah ini telah siap melaksanakan pembelajaran daring melalui aplikasi Google Classroom. “Saya boleh katakan, secara umum memang kita siap, walaupun dalam perjalanan tetap harus beradaptasi dengan kondisi, beradaptasi dengan berbagai macam hal yang masih tetap berubah dalam waktu-waktu ke depan. Dari sisi kesiapan, kita siap tapi keterbukaan dan segala macam adaptasi itu masih dibutuhkan dalam masa perubahan.”

Sama seperti SMA, SMPS Seminari Mataloko juga telah sampai pada tahap persiapan yang maksimal. Hal ini disampaikan oleh Rm. Kristoforus Betu, Pr, selaku Kepala Sekolah di ruang kerjanya pada Senin, 20 Juli 2020. Setelah ditetapkan bahwa seluruh proses pembelajaran akan berlangsung dengan metode Daring dan menggunakan aplikasi Google Classroom, semua guru bergerak dan berusaha keras agar bisa mengoperasikan aplikasi ini.

Romo Kristo mengakui bahwa persiapan itu membutuhkan waktu paling kurang satu bulan. “Butuh waktu ya, kasarnya sebulanlah. Ada hari-hari yang efektif sekali, tapi ada hari-hari di mana para guru belajar mandiri. Belajar terpadu, terprogram, tersistematis, di bawah Romo Isto sebagai operator utama. Ada latihan bersama, tugas mandiri dan juga latihan-latihan bersama oleh teman-teman yang sudah mahir. Menurut saya, itu berjalan intensif.”

Kendala-kendala di Tingkat SMPS

Walaupun SMPS telah memiliki persiapan matang untuk memulai pembelajaran Daring, ditemukan beberapa kendala yang perlu dibenahi. Rm. Kristoforus Betu, Pr, menyampaikan bahwa ada tiga kendala utama yang dihadapi oleh SMPS pada saat ini.

Pertama laboratorium komputer. Menurut Romo Kristo, SMPS perlu memiliki laboratorium komputer sendiri. Kelas Daring mengakibatkan tingginya lalu lintas penggunaan laboratorium komputer, dan oleh karena itu, perlu diadakan laboratorium khusus untuk SMPS.

Kedua, kendala jaringan dan tenaga IT. SMPS memerlukan jaringan internet yang lancar demi meminimalisasi gangguan jaringan selama proses pembelajaran berlangsung. Kendala jaringan juga dialami oleh anak-anak yang tinggal di daerah-daerah yang tidak terjangkau jaringan internet. Di samping itu, SMPS juga membutuhkan tambahan tenaga IT. Menurut Romo Kristo, bila perlu semua guru diwajibkan menjadi tenaga IT.

Ketiga, SMPS kekurangan tenaga imam. Sebagai sekolah para calon imam, SMPS Seminari Mataloko masih membutuhkan tenaga-tenaga imam, sehingga tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang imam, tidak perlu diambilalih oleh para guru dan pegawai awam.

Persiapan para Guru

Dari sharing beberapa guru, kita mendapat informasi bahwa mereka maksimal menggerakkan roda pembelajaran Daring. Hal ini patut diberi apresiasi karena kelas Daring dan  penggunaan aplikasi Google Classroom merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi sebagian besar guru dan siswa.

Ibu Lindawati, misalnya, men-sharing-kan bahwa kelas Daring merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi beliau selama delapan belas tahun menjadi guru. Di tengah kerja keras mempelajari penggunaan aplikasi Google Classroom, Ibu Linda harus mengemas materi pembelajaran dalam bentuk teks, power point, dan video demi meningkatkan ketertarikan para siswa untuk mempelajari materi yang diberikan. Semua hal itu telah beliau kerjakan dengan baik.

Frater Vinsensius Sele, seorang guru baru yang mengampuh mata pelajaran Agama Katolik, mengakui bahwa beliau tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti dalam menjalankan aplikasi Google Classroom.  “Bagi saya, ini cukup mudah. Yang menjadi tugas yang harus dibenahi sekarang ialah bagaimana menyajikan materi sekreatif mungkin agar para seminaris tertarik untuk mendalami setiap materi yang disajikan.”

Selain dari Ibu Linda dan Frater Vinsen, kita juga mendapat sharing yang cukup menggembirakan dari Ibu Theresia Emilia Woghe. Beliau menulis, “Persiapan saya untuk kelas online ini, baik dari segi persiapan materi maupun soal-soal sudah rampung (untuk dua Kompetensi Dasar pertama). Dari segi penguasaan aplikasi, saya kira sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, dalam arti sudah jauh lebih siap, walaupun saya tidak bisa memprediksi bagaimana action-nya nanti.”

 Sama seperti guru-guru SMA, para guru SMPS juga mengatakan bahwa pada umumnya mereka sudah siap mengajar di kelas-kelas Daring. Bapak Darius Yohanes Mau, S.Pd, misalnya berkisah bahwa beliau telah siap 100%.

“Mengenai persiapan kelas Daring,” kata Pak Aris, demikian beliau akrab disapa, “untuk saya punya kelas, saya wali kelas VIIA, persiapannya sudah memadai. Dalam grup-grup WhatsApp, sudah dipastikan semua anak tergabung untuk memudahkan pengontrolan. Kemudian di Google Classroom, anak-anak dikontak melalui nomor pribadi untuk memastikan perorang itu wajib memasukkan akun ke google. Semuanya sudah 100% tergabung dan semua aktif sehingga kelas Daring yang dimulai hari ini berjalan lancar.”

Berbeda dengan Pak Aris yang tidak mengalami kendala dalam penguasaan aplikasi Google Classroom, ada guru, terutama guru-guru senior, masih mengalami kesulitan dalam menjalankan aplikasi pembelajaran tersebut.

Tentang kesulitan itu, Ibu Paulina Bate berkisah, “Secara umum, penyiapan materi pembelajaran (bahan mentah) tidaklah sulit, karena didukung oleh pengalaman puluhan tahun mengajar. Yang masih menjadi kendala adalah ketika materi yang telah disiapkan harus diubah ke dalam bentuk digital dan dibagikan dalam Google Classroom. Sebagai orang tua, kecepatan dalam mempelajari sesuatu telah jauh berkurang, apalagi jika harus selalu berpindah dari kiri ke kanan (menjelajahi situs dan aplikasi digital).”

Selain kesulitan menjalankan aplikasi, kesulitan lain yang dialami para guru di SMPS ialah menyangkut pembagian waktu antara manjalankan profesi guru dengan waktu bersama keluarga di rumah.

Ibu Fransiska Dhera, guru Bahasa Indonesia, berkisah, “Tantangan yang dialami dalam masa transisi ini adalah kesulitan dalam membagi waktu antara panggilan sebagai guru di sekolah dan tanggung jawab sebagai ibu yang mengatur jalannya rumah tangga.”

“Melakukan penyesuaian yang cukup besar dalam mekanisme pembelajaran tidaklah mudah bagi seorang guru sekaligus ibu. Porsi waktu untuk melatih kecakapan dalam menjelajah dan menggunakan rupa-rupa situs dan aplikasi cukup besar dan menuntut guru untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaan sekolah, di rumah. Sementara itu, di rumah sudah ada pekerjaan lain yang menunggu,” tambah Ibu Siska.

Pesan dan Harapan bagi Siswa-siswa Seminari

Dalam banyak kesempatan, Rm. Gabriel Idrus, Pr selaku Praeses dan Kepala Sekolah mengajak para seminaris untuk memaknai situasi yang diakibatkan oleh pandemi covid-19 ini sebagai tantangan dan peluang untuk beradaptasi dengan perubahan.

“Dalam pengalaman seperti ini, kita diuji dan ditantang, siapa yang bertahan dalam perubahan-perubahan itu, dia bisa keluar sebagai pemenang. Kepada para siswa, ini menjadi motivasi. Meskipun dalam situasi keterbatasan, yang barangkali secara perorangan mengalami kesulitan, kita maknai ini sebagai peluang untuk kita beradaptasi dengan perubahan.”

Senada dengan hal yang disampaikan Romo Praeses, Rm. Nani Songkares, Pr, selaku guru senior mengajak para siswa untuk melihat situasi ini sebagai kesempatan untuk melihat identitas seminari secara baru. Father Nani, begitu beliau akrab disapa, dalam catatannya mengenai kebijakan pendidikan di Seminari saat krisis Covid-19, menulis, “Setiap krisis yang kita alami adalah sekaligus opportunity. Jangan-jangan virus corona ini memberi kita peluang untuk bergumul dengan identitas Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu secara baru.”

Para guru, yang juga menjadi wali-wali kelas, mengharapkan agar para seminaris cepat beradaptasi dengan model pembelajaran daring ini. Selain itu, para seminaris juga diharapkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, menjaga pola hidup sehat, menjaga kedisiplinan, dan etika bermedia sosial serta selalu meluangkan waktu untuk mengembangkan talenta.

Tommy Duang

Seminari Mataloko di Tengah Pandemi: Dari Lembah Sasa Menuju Seminari Diaspora

Pandemi virus korona yang belum menunjukkan tanda-tanda menurun, memaksa manusia beradaptasi dengan segala jenis gaya kehidupan baru. Ada banyak hal yang berubah, termasuk model pendidikan calon imam di berbagai Seminari, baik pada tingkat menengah maupun pada tingkat Seminari Tinggi.

Dalam pertemuan online pada 22 Juni 2020 bersama para Rektor Seminari Menengah, Ketua Komisi Seminari KWI, Mgr. Robertus Rubiatmoko, mengatakan bahwa model formasi calon imam dalam waktu-waktu mendatang akan menjadi lebih terbuka dan dinamis, di mana akan ada banyak pihak di luar seminari terlibat dalam proses formasi para seminaris.

Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan sejumlah rapat pengurus Komite Sekolah Seminari, Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada (Yasukda), Konsultan Kesehatan Kabupaten Ngada, dan pemerhati pendidikan. Selanjutnya, diadakan beberapa kali pertemuan bersama Bapak Bupati Ngada dan jajarannya, yang menghasilkan berbagai rekomendasi strategis, antara lain konsep Seminari Diaspora dan implementasi praktisnya.

Secara fisik, pusat-pusat formasi berpindah dari “kompleks seminari” ke tangan para seminaris sendiri, orang tua, Pastor Paroki, Pastor Rekan, dan pihak-pihak lain yang membantu perkembangan para seminaris di rumah mereka sendiri. Di tangan merekalah,  dan dalam  interaksi dan kerja sama dengan Lembaga Seminari, mewujud-nyata Seminari Diaspora itu.

Persis pada titik ini, Rm. Benediktus Lalo, Pr, selaku Romo Prefek SMA Seminari Mataloko, melemparkan satu pertanyaan reflektif yang sangat menantang, “Bagaimana dimensi-dimensi pendidikan calon imam (Sanctitas, Scientia, Sapientia, Sanitas, dan Socialitas) yang sistematis dan terprogram, yang terencana, dengan satu tujuan yang terukur, tetap dipertahankan?”

Bangun Kerja Sama yang Solid

Agar dimensi-dimensi tersebut di atas tetap dihayati oleh para seminaris diaspora, dibutuhkan suatu jaringan kerja sama yang kuat antara pihak seminari dengan para orangtua dan para pastor paroki. Menurut Rm. Benediktus Lalo, Pr, kerja sama dan koordinasi ini merupakan hal yang sangat menentukan dan tentu saja mendesak.

Kalau koordinasi kita dengan orangtua dan pastor Paroki tidak bagus, ada kemungkinan proses pembinaan itu pincang. Kita tidak bisa terlalu jauh sampai pada diri anak. Tetapi kalau betul koordinasi kita bagus dengan visi misi yang sama antara kita dengan orangtua, saya yakin, kita percaya apa yang terjadi di rumah dan di paroki, itu adalah bagian dari proses pendidikan calon imam.”

Walaupun pusat pembinaan para seminaris telah berpindah, kelima dimensi pendidikan calon imam (5S) harus tetap dijaga dan dirawat. Konsep seminari diaspora merupakan sesuatu yang relatif baru, dan oleh karena itu perlu diakui bahwa sebagian proses pembinaan masih jauh dari ideal formasi yang telah ditanamkan sejak dahulu. Akan tetapi, situasi dan kondisi yang tidak ideal ini harus bisa diatasi agar proses formasi tetap berjalan.

Demi mencapai tujuan itu, Romo Praeses menekankan pentingnya interaksi jarak jauh yang berkelanjutan antara para formator dan seminaris melalui media-media sosial. Hal praktis yang diambil ialah dengan memasukkan para formator dalam grup-grup WhatsApp wali kelas. Dengan demikian, para formator memiliki akses yang cukup memadai ke dalam kehidupan para seminaris. Selain itu akan diadakan pula kunjungan berkala dari pihak seminari ke tempat-tempat perjumpaan yang ditetapkan untuk memantau perkembangan pendidikan anak-anak seminari dari dekat.

“Supaya formasinya juga tetap berjalan, kita juga sudah berbicara cukup jauh sebelum ini, yaitu bahwa tetap nanti harus ada interaksi, melalui media-media ini (Google Classroom dan WhatsApp), yang di dalamnya itu banyak pihak terlibat, para gurunya terlibat, tapi juga para pendamping. Pembina harian itu nanti masuk dalam grup-grup supaya mereka terlibat dan melihat bagaimana hal ini berjalan di rumah ketika mereka dirumahkan,” kata Romo Praeses.

“Kemudian kita juga nanti,” demikian Romo Praeses, “akan melanjutkan lagi dengan kunjungan berkala yang kita rencanakan, di mana pihak lembaga akan turun dalam tim, melihat mereka dari dekat. Itu saja yang bisa kita buat dan kita memang berharap supaya setelah masa transisi ini mereka boleh kembali karena dengan itu, formasi lengkap sebagaimana yang kita cita-citakan boleh berjalan kembali.”

Dari Lembah Sasa Menuju Seminari Diaspora

Sejak para seminaris dipulangkan ke rumah pada hari Kamis, 26 Maret 2020 lalu, proses formasi para calon imam ini telah berpindah dari Lembah Sasa ke rumah para seminaris masing-masing. Pandemi virus korona melahirkan inisiatif untuk membentuk Seminari Diaspora. Virus korona membuat Seminari Mataloko bergerak dari Lembah Sasa menuju Seminari Diaspora.

Pada masa-masa ini, harapan banyak diletakkan di pundak para pastor paroki dan orangtua. Rm. Nani Songkares, Pr, dalam catatan refleksinya menulis, “Ada sesuatu yang terasa terbalik: Saat normal, orangtua berharap pada seminari untuk pendidikan anak-anaknya. Saat dilanda krisis virus korona, seminarilah yang berharap pada rumah untuk menjadi seminari sesungguhnya bagi para siswanya.”

Konsep seminari diaspora telah melahirkan paling kurang satu hal penting bagi perkembangan panggilan para seminaris, yaitu bahwa penentu terakhir dari keberhasilan adalah diri mereka sendiri. Walaupun para seminaris ini berada jauh dari seminari dan para formator, tetapi kalau mereka tetap mendidik diri dalam koridor pendidikan calon imam, mereka akan dengan sendirinya tiba pada suatu level kematangan tertentu. Di sini dibutuhkan suatu kemandirian para seminaris untuk mendidik dirinya sendiri.

Wakil Praeses, Rm. Kristoforus Betu, Pr mengharapkan agar seminari diaspora ini tidak kehilangan nilai-nilai esensialnya dan juga para seminaris diharapkan agar menjaga keseimbangan penghayatan lima dimensi pendidikan calon imam.

“Saya ingin supaya lembaga pendidikan calon imam ini tidak pudar, tidak kabur, dan tidak kehilangan nilai-nilai esensialnya. Nilai esensial itu ada banyak sekali. Mulai dari kerohanian sampai dengan kemandirian, perkembangan, dan pertumbuhan kepribadian para seminaris. Juga  keseimbangan antara yang rohani dan yang sosial perlu selalu dijaga. Harapan saya, nilai-nilai yang terangkum dalam 5S itu tetap bertumbuh, terpelihara, semakin gesit, dan semakin maksimal karena tantangan ini.”

Tommy Duang

Rekoleksi: Momen Pembaharuan Komitmen

Rekoleksi: Momen Pembaharuan Komitmen

Jelang Perayaan Puncak Dies Natalis ke-89

 

Tiga hari menjelang perayaan puncak Dies Natalis ke-89, Seminari Mataloko  menyelenggarakan rekoleksi komunitas (12/09/2018). Rekoleksi menjadi momen yang istimewa bagi segenap anggota komunitas guna memaknai hari-hari persiapan menjelang perayaan puncak 15 September mendatang.

Ketua Panitia Pesfam 2018, RD. Beny Lalo dalam kata pengantarnya, menyebutkan bahwa rekoleksi bukan sekadar menjadi bagian dari rangkaian perayaan Pesfam (Pesta famili) melainkan lebih dari pada itu, menjadi hari yang istimewa untuk merenungkan tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota komunitas “Dari sekian banyaknya  hari yang kita habiskan untuk pertandingan dan perlombaan, hari ini menjadi hari yang spesial bagi kita untuk bermenung sepanjang hari,” tegasnya.

Kegiatan rekoleksi diawali dengan adorasi bergilir  dari beberapa kelompok kelas yang dimulai dari pukul 06.30. Di sela-sela adorasi, pada pukul 08.00-09.15, semua anggota komunitas yang terdiri atas para imam, suster, frater, guru dan pegawai serta seminaris SMP dan SMA mengikuti renungan dan sharing yang dibawakan oleh Romo Praeses, RD. Gabriel Idrus di Kapela St. Alfonsus Maria de Liguori, Kapela SMA Seminari.

Adapun RD. Idrus pada tahun ini merayakan Perak, 25 tahun Imamatnya. Momen Dies Natalis ke-89 pada tahun ini menjadi kian semarak lantaran adanya perayaan perak imamat Romo Praeses. Rekoleksi pada hari ini bernaung di bawah tema umum Pesfam 2018 yakni “Menabur kasih menuai panggilan”.

Napak Tilas Panggilan Sang Gembala

Romo Idrus mengawali rekoleksi dengan mencoba kembali bernapak tilas, melihat ke masa-masa awal ketika panggilan hidup menjadi imam mulai bertumbuh. “Keinginan untuk menjadi imam hanyalah keinginan kecil dari sekian banyak keinginan yang ada ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar,” demikian Romo Idrus mengawali kisahnya.

“Keinginan itu tumbuh tatkala menyaksikan pastor Paroki Lela dan pastor misionaris Belanda lainnya duduk bersama di pastoran Paroki Lela. Selain itu, kontak dengan imam pribumi dan kehadiran Para Frater dari Ritapiret dan Ledalero juga membangkitkan rasa senang saya terhadap mereka. Kehadiran para Frater menjadi kesempatan bagi kami yang masih kanak-kanak untuk menyaksikan orang-orang hebat di lapangan bola kaki, lapangan bola voli dan basket. Selain itu, keterampilan memainkan drama dan alat musik menjadi daya tarik tersendiri bagi saya yang pada saat itu masih kecil. Akan tetapi, setelah menamatkan pendidikan SD saya berniat untuk melanjutkan pendidikan di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) selain karena belum ada niat masuk seminari juga karena sang ayah tidak setuju karena sebagaimana pendapat umum, sekolah di seminari itu mahal. Namun, karena didesak oleh Wakil Kepala Sekolah, bapak mengiyakan saya untuk masuk seminari.”

Begitulah awal kisah panggilan Sang Gembala ketika mulai memasuki kehidupan sebagai seorang seminaris. Dalam refleksinya, Romo Idrus menginsafi bahwa sesungguhnya keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar di awal panggilannya. Jawaban yang sederhana itu ternyata mempunyai konsekuensi yang besar bagi dirinya pribadi dan bagi keluarganya. Banyak hal yang berubah ketika ia mulai masuk ke seminari dan ketika ia perlahan-lahan mulai menapaki ziarah sebagai orang yang terpanggil hingga menjadi seorang gembala yang telah berziarah selama 25 tahun dalam tapak Imamat.

Panggilan Imamat sebagai Rahmat dan Tanda Keselamatan

Imamat bagi Romo Idrus pertama-tama adalah rahmat Allah yang menyelamatkan bahwasannya, cara keselamatan Allah telah lama dimulai dalam dirinya dengan segala keberadaannya sebagai seorang manusia. Merefkleksikan keselamatan Allah yang telah lama dimulai ini, Romo Idrus mengambil inspirasi dari sosok Nabi Yeremia. Seperti Allah mengenal Yeremia dengan segala keberadaan dirinya bahkan sejak Yeremia berada dalam kandungan ibunya dan dalamnya karya keselamatan Allah terlaksana, demikianpun cara keselamatan Allah telah lama dimulai dalam diri Romo Idrus. Keselamatan Allah nyata dalam diri pribadi yang terpanggil.

“Bagi seorang imam, imamat sebagai rahmat yang menyelamatkan bukan hanya tejadi dalam diri orang yang dilayani melainkan pertama-tama terjadi dalam dirinya sebagai orang yang terpanggil. Sebab bagaimana mungkin ia dapat menghayati tritugas panggilan Kristus sebagai imam, nabi dan raja kalau ia tidak merasa ada rahmat keselamatan dalam panggilan hidupnya. Kesadaran akan rahmat Allah yang menyelamatkan terasa nyata dalam panggilan saya sebagai imam dan bahkan rahmat itu menjadi nyata dalam pengalaman dilematis.”

Imam kelahiran 24 Maret 1965 ini menambahkan bahwa rahmat Allah bekerja di saat-saat yang tepat dan rahmat itulah yang membawa keselamatan bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang dilayaninya. Karena itu, dalam tugas pengabdiannya sebagai seorang gembala, ia mempunyai prinsip yakni menempatkan karya pelayanan imamat di atas kepentingan keluarga. Menjadi imam berarti menjadi pribadi yang lepas bebas dari berbagai ikatan. Prinsip inilah yang selalu dipegang teguh ketika ia berhadapan dengan pengalaman dilematis yang memaksanya untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Romo Idrus percaya bahwa ketika menjadi pribadi yang lepas bebas, maka ia akan mendapatkan banyak saudara seperti sabda Tuhan dalam Injil. Pengalamanan pengembaraan 25 tahun imamat sudah menunjukkan bahwa Sabda Tuhan dalam Kitab Suci itu hidup, nyata dan berdaya guna “Tuhan selalu punya cara dan bahkan di saat-saat yang sulit dan tak ada harapan sekalipun, sabda Tuhan menjadi nyata,” demikian imam yang mengambil moto imamat dari Sir. 42:15 ini melanjutkan refleksi imamatnya.

Bertahan dalam Pelayanan Kasih

Imamat menurut RD. Idrus adalah jabatan dan profesi yang mengedepankan pelayanan kasih. Dengan ini hendak ditunjukkan wajah personal dan sosial dari sebuah karya pelayanan. Ketika merayakan Kurban Ekaristi dan sakramen serta hadir dalam karya pelayanan kasih, imam hadir dalam dua wajah yaitu personal dan sosial. Karya pelayanan inilah yang dihidupinya dalam hidup imamatnya.

Lebih lanjut, Romo Idrus membagikan tiga hal pokok yang membuatnya setia dan bertahan selama 25 tahun dalam hidup imamatnya. “Seandainya ditanya, apa yang membuat saya setia dan bertahan hingga usia perak ini, maka saya akan menjawab, pertama-tama adalah selalu berusaha membangun hidup rohani yang baik melalui doa, ibadat dan Ekaristi. Lalai dalam melaksanakan hal ini akan menimbulkan rasa cemas dari dalam diri dan saya bersyukur atas rasa cemas yang kudus ini. Kedua, kesadaran akan keseimbangan antara ora et labora. Doa dan bekerja bagi saya adalah mata rantai yang mengikat imamat. Kata Aristoteles, musuh kehidupan rohani yang baik adalah terlalu banyak melakukan sesuatu. Jika saya hanya bekerja dan lupa berdoa, atau menggantikan doa dengan kerja, apa bedanya saya yang imam dengan para pekerja sosial. Ketiga, selain karena kekuatan Allah, saya juga percaya pada kekuatan manusia yang adalah sahabat dan rekan kerja saya. Saya percaya bahwa masing-masing orang adalah pribadi yang unik dan karena itu, saya selalu berusaha sedapat mungkin menghindari kerja sendiri dan lebih mementingkan kerja tim.”

Sebagai seorang imam, Romo Idrus berusaha untuk menghidupi spritualitas hidup Yesus sendiri yang selalu menyeimbangkan antara doa dan bekerja. Bekerja keras tidak boleh sampai melupakan doa demikianpun sebaliknya, doa yang tekun jangan sampai mengabaikan waktu kerja. Doa dan bekerja harus berjalan seimbang. Itulah perisai yang menjaga tubuh imamat tetap bertahan hingga seperempat abad ini.

Menabur Kasih, Menuai Panggilan

Di akhir rekoleksinya, Romo Gabriel Idrus mencoba merefleksikan tema Pesfam 2018, Menabur kasih Menuai Panggilan. “Jika yang menabur kasih di tempat ini adalah para pembina, guru dan pegawai maka yang menuai panggilan pada akhirnya adalah orang tua, masyarakat dan Gereja. Bagi saya, yang menabur kasih dan yang menuai panggilan adalah kita semua yang dengan caranya masing-masing turut memberi warna pada setiap proses formasi yang ada di Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko ini,” demikian katanya.

Ada beberapa refleksi sederhana yang kiranya diberikan seandainya yang dimaksudkan dengan penabur dan penuai adalah semua anggota komunitas Seminari Mataloko. Pertama, Semua anggota komunitas harus aktif dan bukan menjadi pribadi yang pasif. Itu berarti adalah tidak ada komponen yang lebih tinggi dari yang lain. masing-masing orang menabur dengan penuh tanggung jawab sehingga produk yang dihasilkan betul-betul bermutu dan pada akhirnya, banyak orang yang mencarinya.

Jika Proses formasi di seminari Mataloko adalah proses menabur maka produk yang bermutu harus dapat dihasilkan pada tahun-tahun mendatang sebab wajah Gereja 30/40 tahun mendatang berada di pundak-pundak semua komponen baik sebagai  formator maupun formandi. Untuk itu perlu ada rasa optimisme yang tinggi bahwasannya, masing-masing pihak adalah pribadi yang besar untuk sebuah karya besar bukan sebaliknya merasa diri kecil dan tidak layak untuk sebuah karya besar. Karena itu, menabur kasih, menuai panggilan tidak akan berarti jika tidak ada kesungguhan dan tanggung jawab serta rasa sakit dan bahkan korban nyawa seperti Yesus yang telah mengorbankan nyawanya.

Kasih Yesus dalam karya pelayanan mestinya menjadi contoh kasih yang kita tabur, sebab, kataNya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.” Setiap anggota komunitas diajak untuk mencari kasih yang sempurna dalam pengalaman hidupnya masing-masing.

Hening dalam Doa dan Refleksi

Rekoleksi yang berlangsung sepanjang hari ini diwarnai dengan suasana hening. Seminaris diundang untuk berdiam dalam doa dan refleksi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Doa menyadarkan seminaris untuk menyadari hakikat panggilannya sebagai pribadi pendoa sementara refleksi menjadikan mereka pribadi yang bijak dengan melihat diri dan pengalaman hidupnya. Staf Liturgi OSIS membagi kelompok kecil untuk kemudian beradorasi secara bergilir hingga pukul 18.00. Seluruh rangkaian rekoleksi pada hari ini ditutup dengan adorasi bersama di Kapela SMA Seminari. Adorasi penutupan dipimpin oleh RD Bene Baghi.

Akhirnya, suasana khusuk dalam doa memampukan seminaris dan para formator guna menelusuri pengalaman hidup masing-masing dalam melaksanakan tema menabur kasih, menuai panggilan. Pasca adorasi penutupan, rutinitas harian seminaris kembali berlangsung seperti biasa.

Fr. Deni Galus, SVD

DOA TAIZE DI SEMINARI

Ratusan siswa SMP dan SMA Seminari Mataloko, membanjiri kapela Santo Alfonsus Maria De Liguori, guna mengikuti doa Taize, Jumat (30/3/2018). Kendati berjumlah besar, Kapela di sisi barat SMA tersebut terasa hening. Para siswa khusuk berdoa diterangi cahaya lilin di altar dan sisi luar barisan bangku kapela itu.

Doa dalam suasana sahdu ini dipimpin oleh Fr. Stefanus F. Tangi, O’Carm, yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di seminari. Lantunan lagu-lagu pendek dengan syair dari penggalan Kitab Suci yang dinyanyikan berulang-ulang, diiringi petikan gitar, terasa bergema lembut, dan membawa para seminaris masuk ke dalam perjumpaan batin dengan Tuhan.

Alunan Musik dan Kitab Suci

Inti doa bercorak Taize adalah penggalan Kitab Suci yang dilantunkan berulang-ulang dalam bentuk lagu dengan iringan musik, dan dinyanyikan dengan hati, sehingga terasa lembut. Sabda Tuhan mengalir ke dalam batin, bergema di seluruh tubuh.

Jesus remember me, when You come into Your Kingdom – Yesus ingatlah akan daku, ketika Engkau masuk ke dalam KerajaanMu” (Lk.23:42). Ini salah satu contoh penggalan Kitab Suci yang dilantunkan. Sabda Tuhan ini dinyanyikan berulang-ulang di Kapela, dengan alunan musik yang lembut. Setelah itu ada saat hening, untuk meresapkan Sabda Tuhan. Indah sekali!

Di luar Kapela, Sabda itu diingat, didengungkan terus, dibawa ke dalam kehidupan. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,” kata Yesus (Yoh.15:5). Doa bercorak Taize terasa membantu para seminaris tinggal di dalam Tuhan, di dalam SabdaNya yang membawa kekuatan bagi kehidupannya.

Dari sejarahnya, doa ini dikembangkan Br. Roger Schütz saat pecah perang dunia II. Dia mendirikan sebuah komunitas di Taize, sebuah desa kecil di timur Perancis. Komunitas ini hidup bernapaskan doa dan karya. Doa yang dikembangkan adalah penggalan Kitab Suci, yang dilantunkan dengan lembut. Ini dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan malam. Doa seperti ini menggelorakan cinta yang mempersatukan. “Cintailah, dan ungkapkanlah cinta itu dengan hidupmu”, itulah motto hidup Br. Roger. Komunitas itu menyatukan segenap umat kristiani (Katolik, Ortodox, Protestan).

Dahaga akan kasih yang mempersatukan di kalangan umat kristiani seakan terpenuhi di dalam komunitas ini, dan yang paling merasakannya adalah kaum muda. Mereka berdondong-bondong datang dari berbagai belahan dunia, dari berbagai gereja, termasuk dari Indonesia, untuk berziarah ke Taize.

“Seseorang yang singgah ke Taize bagaikan mendekati sumber mata air. Di sini seorang peziarah berhenti, melepaskan dahaganya sebentar, sebelum melanjutkan perjalanannya,” ujar Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Taize, 5 Oktober 1986.

Berakar pada Tuhan

Doa itu membuat kita berakar pada Tuhan, kata Paus Fransiskus, di hadapan ribuan jemaat yang memadati lapangan St. Petrus di Vatikan, 21 Maret 2018 lalu. “Tanpa akar, dapatkah sebuah pohon bertumbuh dengan baik, dapatkah tanaman berbunga? Tidak!” Hidup kristiani harus berbuah dalam kasih dan perbuatan baik, lanjut Paus. Untuk itu seorang Kristen harus berakar pada Tuhannya. “Jangan pernah hidupmu terpotong dari Yesus,” tegasnya.

Doa bercorak Taize bertujuan mengakarkan hidup pada Tuhan. Tentu, ini bukan corak doa satu-satunya, tetapi salah satu bentuk yang bisa membantu para seminaris bertekun dalam doa.

Sebetulnya, doa ini telah lama diperkenalkan di seminari. Namun, saban tahun kegiatan ini meredup. Fr. Even menghidupkannya kembali. “Kami sering melantunkan doa bergaya Taize di biara Karmel”, katanya.

Pengajar bahasa Jerman di SMA Seminari itu mengatakan, doa Taize mempunyai corak kontemplatif. Kekuatannya bukan pada perasaan atau pikiran, tetapi pada Sabda Tuhan yang dilantunkan berulang-ulang, dan membawa suasana hening.

Sabda Tuhan itu memperkaya khasanah batin. Gema Sabda Tuhan yang terus bergaung itu mengundang orang untuk datang menjumpai Tuhan dalam liturgi kudus dan doa-doa pribadi. Taize membantu orang beriman membangun doa-doa batin, berupa perulangan penggalan Sabda Tuhan. Pada gilirannya, doa-doa batin itu menjadi napas hidupnya. Itulah yang telah lama dipraktikkan para rahib dari Gereja Timur sejak abad pertengahan.

Para seminaris berharap doa bercorak Taize ini dijalankan secara teratur dan tetap di lembaga pendidikan calon imam ini. (Kontributor: Ari Djone, Naldy Muga, siswa kelas X. Editor: Nani).

RATUSAN SISWA IKUTI TESTING MASUK SEMINARI

Ratusan siswa SD di Kabupaten Ngada dan Nagekeo mengikuti testing masuk seminari hari Jumat-Sabtu (16-17/3/2018) di SMP seminari. Kegiatan rutin tahunan tersebut terbagi dalam dua sesi, yakni tes wawancara dan tes tertulis, masing-masingnya berlangsung sehari.

“Kita patut bersyukur pada Tuhan karena dari tahun ke tahun banyak anak terpanggil untuk menjadi imam. Motivasi panggilan akan terus dimurnikan melalui proses pendidikan di seminari. Terima kasih karena orangtua masih mempercayakan anak-anak kepada kami untuk dididik di sini”, kata Rm. Benediktus Lalo, Pr, ketua Panitia Penyelenggara Testing, ketika memberikan pengarahan awal hari pertama.

Kurikulum Seminari

Dalam pengarahan tersebut Rm. Beny menggambarkan secara umum kurikulum seminari yang berintikan lima S (sanctitas, scientia, sapientia, sanitas, socialitas) yang telah dikembangkan sejak awal berdirinya, dan karena itu tahan uji. “Di tengah kekacauan orientasi moral yang melanda masyarakat kita, di seminari kita tetap menjalankan pendidikan hati nurani. Itulah sapientia”, ujarnya, menjelaskan salah satu dari lima S tersebut.

Kurikulum tersebut terejawantah dalam aturan harian yang menata kehidupan seminaris dari waktu ke waktu, mulai bangun pagi pukul 4.30 sampai tidur malam jam 21.30.  “Setiap detik dimanfaatkan untuk proses pendidikan”, katanya. Dengan demikian masing-masing kegiatan ada waktunya. “Termasuk ada waktu untuk keheningan. Pagi hari setelah Misa, kalian harus melakukan berbagai aktivitas dalam keheningan. Bisa?”, tanyanya kepada peserta testing, yang segera dijawab lengkingan penuh semangat, “Bisaaa!” “Juga ada waktu untuk kerja tangan, untuk  bekerja di kebun. Bisa?” “Bisaaa!!”

Opus Manuale

Sehubungan dengan kerja tangan, di Englishroom seminari, Rm. Beny lebih jauh menjelaskan, tanah adalah salah satu unsur penting pendidikan. “Anak harus bersentuhan dengan tanah, karena dari tanah anak belajar nilai-nilai”, katanya, sambil menyebutkan ungkapan opus manuale – kerja tangan – , sebuah konsep tua, yang terasa makin redup dalam proses pendidikan kita. “Bukan kerja tangannya yang menjadi fokus, tetapi semangat yang bisa ditimba dari situ, yakni pengorbanan, kerendahan hati, kerja keras, tanggungjawab, yang bisa siswa dapatkan saat berkontak dengan tanah”.

Pendidikan Karakter yang Kental

Dari beberapa wawancara yang dilakukan bersama orangtua siswa di hari kedua, terungkap kepercayaan terhadap seminari Mataloko bukan tanpa alasan. Pembentukan karakter menjadi salah satu penggerak utama mereka. “Orang pintar banyak, tetapi orang pintar dengan karakter yang bagus jarang. Karena itu pendidikan karakter sangatlah dibutuhkan,” kata Benediktus Naru, orangtua salah seorang siswa peserta testing. Dia mengapresiasi pendidikan karakter yang berlandaskan lima S di seminari. “Mudah-mudahan anak saya berkembang dengan matang di sini”, harapnya. Hal senada disampaikan Dius Taso, orangtua siswa asal Mbay. ”Sebagai orangtua saya bertanggungjawab terhadap perkembangan kepribadian anak. Saya berharap pilihan menyekolahkan anak di sini tepat”, katanya.

Ditemui di sela-sela testing, Rm. Beny mengucapkan terima kasih kepada para orang tua siswa dan para pastor paroki. “Sentuhan motivasi sudah dilakukan di keluarga-keluarga dan juga oleh para imam. Banyak siswa tertarik masuk seminari karena dorongan dan keteladanan para imam di lapangan” tandasnya.

Pada hari pertama peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk sesi wawancara. Pada hari kedua dilaksanakan tes tertulis dengan 3 mata uji yakni berpikir verbal, baris bilangan, dan kosa-kata. Untuk peserta SMP calon KPB (Kelas Persiapan Bawah) ditambahkan bahasa Inggris (Kontributor: Mario Degho. Editor: Nani).

MERIAH PENCANANGAN HARI ALUMNI DAN PELUNCURAN WEBSITE SEMINARI

            Pencanangan Hari Alumni dan peluncuran website resmi Seminari oleh Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, Rm. Gabriel Idrus, Pr,  di aula rekreasi, pada Minggu (11/3/2018) berlangsung meriah. Diapiti puluhan alumni perwakilan berbagai angkatan, dengan iringan bunyi sirene, Rm. Idrus menabuh gong pencanangan Hari Alumni dan peluncuran website tersebut. Tepuk tangan dan sorak sorai seluruh civitas academica Seminari menggemuruh di aula yang dahulu digunakan sebagai kamar tidur siswa itu.

Hadir pada kegiatan tersebut para alumni senior seperti Soter Parera, Frans Mola, Gius Pello, Bas Wea, Johny Watu, Sensi Sengga, Rm. Daniel Aka, Pr, dan sejumlah alumni medior dan junior lainnya, yang membaur bersama para formator, guru dan siswa.  Mans Mari yang membantu design dan pengerjaan website hadir bersama istri dan kedua buah hatinya.

Bangun Kekuatan Bersama Menuju Satu Abad Seminari

Dalam sambutannya Rm. Idrus menjelaskan, penetapan Hari Alumni jatuh pada tanggal 13 Maret, hari lahir santo Yohanes Berchmans, pelindung seminari. “Pencanangannya hari ini, 11 Maret, karena merupakan hari Minggu. Namun ke depan, Hari Alumni dilakukan setiap tanggal 13 Maret, apapun harinya”, tegasnya.

Penetapan Hari Alumni mempunyai narasinya. Bermula dari bisik-bisik di kalangan alumni dari waktu ke waktu, lalu menggema semakin kuat ketika kapela SMP yang menjadi ikon seminari direnovasi dan diresmikan 13 Maret 2017 lalu. Gagasan itu ditanggapi serius oleh para formator, yang memutuskan pencanangan Hari Alumni 11 Maret ini.

Rm. Idrus melanjutkan, Hari Alumni dirasa perlu karena berbagai alasan. Selain kesempatan bernostalgia dan membaca realitas seminari saat ini, “Hari Alumni adalah kesempatan kita membangun mimpi bersama ke depan, dalam kerangka Grand Design Menuju Satu Abad Seminari, yang dipetakan dalam lima bidang sekaligus, yakni: bidang Manajemen Mutu Pendidikan, bidang Sarana dan Prasarana, bidang Pengolahan Aset dan Usaha Produktif, bidang Penataan Lingkungan, dan bidang Penggalangan Dana. Kalau kekuatan itu kita bangun bersama, kita yakin pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita”.

Keyakinan tersebut, lanjut alumnus seminari 1982/1983 -1984/1985 itu, bukan tanpa dasar. “Sudah muncul berbagai gerakan alumni, mulai dari alumni se-Jabodetabek, komunitas-komunitas alumni dari masing-masing angkatan yang menyumbang dengan masing-masing cara melalui komunikasi dalam media-media sosial, sampai gerakan perorangan, seperti yang dilakukan Bapak Agus Dhae yang membantu olah musik vokal, dan, hari ini, Bapak Mans Mari yang membantu design website kita”.

Tentang peluncuran website seminari, imam kelahiran 24 Maret 1965 itu menyebutkan, hadirnya website memenuhi kerinduan seminari akan adanya dokumentasi yang bisa disimpan dan diakses kembali, seraya mengisahkan pengalaman getirnya  berkenaan dengan dokumentasi perayaan 75 tahun seminari tahun 2004 lalu yang nyaris tak berbekas.

Ia mengucapkan terima kasih atas pengorbanan dan kerja keras Mans Mari dan  teman-teman untuk menyiapkan website seminari. Ia menyebutkan beberapa karakter khas website tersebut, seperti kemudahan mengakses melalui aplikasi android, keterkaitan utuh lembaga sekolah dan seminari, adanya terjemahan dalam bahasa-bahasa dunia, termasuk bahasa Latin, kemudahan pendaftaran alumni dan lamaran siswa baru. “Tahun ini kita merayakan Hari Alumni dengan peluncuran website sebagai kegiatan unggulan. Setiap tahun kita harus bisa menentukan kegiatan unggulan dalam perayaan Hari Alumni”, tegasnya, sebelum menyampaikan terima kasih pada alumni yang hadir.

Berbagi Pengalaman

Pada kesempatan tersebut beberapa alumni berkenan berbagi pengalamannya selama dididik di seminari. “Saya bahagia sekali seminari telah membekali saya sekian sehingga saya banyak mengalami kemudahan belajar dan bekerja”, ujar Soter Parera, yang menyelesaikan masternya di Amerika. “Seminari membekali orang dengan basis ilmu dan moral yang kuat”, kata Frans Mola di akhir syeringnya. “Kalau Obama mengatakan Together we can dan disambut rakyat Amerika, Yes, we can, kita pun sangat mampu menggalang kekuatan bersama”, kata Gius Pello, bintang sepakbola seminari tahun 1960-an. “Kita sangat bisa bersaing”, ungkap Armin Dhae, alumnus angkatan 1992-1998. “Berbagai keterampilan yang saya dapatkan adalah hasil didikan seminari”, tegas Agus Dhae.

Alumni lainnya seperti Sensi Sengga, Stanis Kesu, dan Rm. Daniel Aka, Pr, menyajikan kisah-kisah yang tak kalah menarik, juga konyol dan lucu: tentang sandal lili yang lebih berharga dari sandal jepit, tentang bolos yang “kudus” dan pertanyaan berapa banyak tikungan di jalan, atau tentang naik traktor kebanggaan. “Why not the best? Itu pertanyaan yang membangun suasana penuh persaingan saat ini. Kita berfokus pada proses pendidikan yang membuat semua siswa kita bertumbuh”, kata Rm. Dani di akhir syeringnya.

Mans Mari membingkai syeringnya dengan sebuah refleksi menarik tentang berbagai pembatasan yang dialaminya di seminari. “Ketika banyak orang di luar diberi kebebasan melakukan dan mengakses berbagai hal, pembatasan di seminari sering dianggap kemunduran. Tapi bagi saya, kalau kita hendak melompat sejauh mungkin, kita harus mundur jauh sekali. Kalau kita ingin membangun gedung yang tinggi, kita harus menanam dasar sedalam-dalamnya. Kalau kita ingin berkembang tanpa batas, kita harus tahu batas. Pembatasan itu penting sekali, karena punya daya dobrak yang luas”, katanya seraya berbagi pengalaman mengembangkan diri dan melayani dalam dunia digital yang tak terbatas.

Rm. Praeses menutup seluruh perbincangan dengan penyampaian mengenai pembangunan asrama SMP. “Pertengahan Juni 2018 ini gedung utama asrama akan dibongkar, lalu dibangun baru berlantai dua. Kita berharap dalam satu tahun bangunan itu selesai”, ujarnya (Nani).

SISWA SEMINARI LIVE IN DI TIGA LOKASI

         Siswa seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko melaksanakan live in di tiga lokasi, yakni Jerebuu untuk para siswa yang tergabung dalam kelompok etnis PERSIBA (Persatuan Seminaris Asal Bajawa), Moni untuk kelompok etnis GASSELI (Gabungan Seminaris Asal Ende-Lio), dan Boawae untuk kelompok etnis TARSANTO (Tergabungnya Seminaris Asal Nagekeo-Toto), pada Kamis-Minggu (15-17/06/2017).

            Kegiatan di awal liburan musim panas yang adalah program tahunan tersebut  wajib diikuti semua seminaris, tak terkecuali para siswa dari luar kelompok-kelompok  etnis tersebut, seperti dari Manggarai, Larantuka, Lembata, Kupang, ataupun  dari luar NTT. Mereka diberi kebebasan memilih bergabung di dalam salah satu dari ketiga kelompok etnis itu.

            Dalam kegiatan tersebut para siswa disebar ke dalam KUB-KUB di paroki tujuan, tinggal di tengah keluarga, untuk sejenak merasakan denyut riil kehidupan keluarga dari umat yang menjadi konteks pendidikan mereka, dan kelak pelayanan mereka di masa mendatang.

            Para siswa dari kelompok etnis GASSELI, misalnya, pada Kamis 17/06/2017, disebarkan dalam 32 KUB di paroki Moni. Keesokan harinya, mereka mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama umat di KUB masing-masing. Kegiatan sore hari adalah pertandingan sepak-bola persahabatan dengan OMK (Orang Muda Katolik) paroki Moni.

            Kegiatan serupa dilakukan para siswa kelompok etnis PERSIBA di Jerebuu dan TARSANTO di Boawae. Kegiatan malam adalah katekese umat di KUB masing-masing dengan tema Meneladani Keluarga Kudus Nasareth. Perayaan Ekaristi hari Minggu diadakan di pusat paroki, dengan koor yang ditanggung para siswa. Seluruh kegiatan live in diakhiri dengan Malam Hiburan berupa pentasan acara seperti drama, tarian atau pun nyanyian untuk menghibur umat setempat.

Pengalaman Berharga

            Kegiatan live in menyediakan banyak pengalaman berharga bagi para siswa. “Saya ditempatkan di KUB yang cukup jauh dari pusat paroki. Kami harus berjalan menurun cukup dalam, kemudian mendaki lagi”, ujar Mario Degho (17), siswa kelahiran kota Semarang, yang memilih live in di Jerebuu, sebuah paroki dengan perbukitan serba menjulang dan jalan yang curam.  Perjalanan turun naik bukit dengan tangga yang curam harus dilewatinya setiap kali pulang-pergi dari KUB ke paroki atau sebaliknya. Dia merasakan sendiri kerasnya perjuangan hidup yang tidak dialaminya di seminari. “Namun saya bahagia merasakan kehangatan keluarga di sana. Saya merasa diteguhkan”, lanjutnya.

            Hal serupa dialami Ito Funan Pineul (16), siswa asal Kefa, Timor, yang memilih live in di Moni. “Tempat saya jauh dari pusat paroki. Saat pertama saya ke tempat penginapan, saya diantar dengan motor. Hari-hari berikutnya waktu saya pergi ke pusat paroki untuk merayakan Ekaristi, baru saya sadar, ternyata lokasinya jauh. Umat kalau pergi ke pusat paroki harus berjalan jauh sekali. Saya sadar, saya tidak boleh cepat menyerah atau putus asa kalau mengalami kesulitan di seminari”, kisahnya.

            “Keluarga tempat saya tinggal adalah petani. Saya pergi bersama mereka ke kebun. Saya ingin sekali bekerja bersama mereka, tetapi mereka melarangnya. Saya sedih sekali”, kata Nando Magho (16), siswa asal Kalimantan yang memilih live in di Moni. “Tapi saya tahu, ini bentuk penghargaan mereka terhadap saya”.

            “Kampung tempat kami diinapkan jauh sekali dari pusat paroki. Kami diantar dengan satu motor. Belakangan saya tahu, itulah satu-satunya kendaraan ke kampung itu. Saat ke paroki hari-hari selanjutnya, motor digunakan untuk adik-adik siswa SMP, sedangkan saya dan teman-teman dari SMA memilih jalan kaki, kadang-kadang sambil berlari, karena jauh. Kami pernah berangkat dari paroki dan tiba kembali di kampung jam 9 malam. Yang mengharukan, umat masih setia menunggu”, syering Erik Senda (20), dan Stanley Novendra (18), keduanya siswa XII SMA.

            Manfaat lain dari kegiatan live in adalah pengalaman berorganisasi dan kolaborasi yang nyata. “Kami sendiri harus berkomunikasi dengan pastor paroki dan umat dari paroki tujuan, mempersiapkan seluruh acara, mengatur jadwal kegiatan, dan menghubungi kendaraan”, kata Andi A. Lowa, salah seorang pengurus kelompok etnis PERSIBA. Ada kegembiraan tapi juga tantangan yang tak jarang getir. Ada sukacita, tapi tak kurang kecemasan: tentang keselamatan, tentang jalannya acara, tentang ketepatan waktu, dan lain-lain.

Para siswa umumnya merasa amat diteguhkan dalam panggilan mereka. Kepolosan, keramahan umat, penghargaan mereka, kerendahan hati mereka, perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan mereka untuk mengembangkan hidup, kerinduan mereka untuk mendapatkan kunjungan lanjutan, keterampilan berorganisasi, berkomunikasi dan berkolaborasi, tanggungjawab untuk menyelesaikan seluruh kegiatan secara tuntas adalah sedikit dari sekian banyak bekal rohani yang dinikmati para siswa dan meneguhkan mereka.

Live in adalah salah satu kegiatan yang selalu dinantikan para siswa (Nani. Kontributor: Mario, San Sera, Alfian).

MOANA DAN KISAH ANAK YANG HILANG

Ia maju ke depan kelas dengan langkah canggung. Beberapa orang teman bertepuk tangan untuknya tetapi ia menampilkan ekspresi datar. Seluruh perhatian anggota kelas terarah kepadanya tetapi ia hanya terpaku memandangi lantai. Ia menyembunyikan tangan dan bukunya di belakang pinggang. Suasana kelas seketika hening. Semua menanti rangkaian kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Ia membuka buku, melirik singkat ke arahku dan menarik napas. Aku mengangguk pelan, memberinya kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada seluruh anggota kelas.

Ia mulai membaca hasil diskusi kelompok dari buku catatannya. Suaranya bergetar, seirama dengan getaran jari tangan yang memegang buku. Gugup. Beberapa kata salah diucapkan tapi cepat diperbaiki. Seluruh anggota kelas diam menyimak penjelasannya. Aku sendiri mulai meraba-raba alur gagasan kelompok yang sedang dipresentasikannya.

Pada semester ini, aku dipercayakan untuk mengampu mata pelajaran ekstrakulikuler Pendidikan Nilai bagi seminaris kelas delapan. Pendidikan Nilai merupakan pelajaran khas Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko. Melalui pelajaran ini siswa diperkenalkan dengan nilai-nilai khas seminari yang dikenal dengan nama 5S (Sanctus, Scientia, Sapientia, Sanitas, Sosialitas) beserta penjabaran yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari di asrama. Tujuan pelajaran ini adalah agar para seminaris menghayati kelima nilai tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari sehingga mereka dapat menjadi pribadi-pribadi calon imam yang berkembang secara holistik.

Saya mengawali pertemuan pertama bersama para seminaris kelas delapan dengan tema sosialitas. Secara sederhana sosialitas berkaitan dengan kenyataan bahwa para seminaris hidup bersama dalam satu asrama. Mereka hidup bersama dalam asrama dengan aturan yang ketat lantaran satu visi yang sama: membina diri untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Oleh karena itu, mereka mesti memiliki suatu cara pandang dan kebiasaan yang khas di mana aturan hidup harian menjadi penuntun bagi mereka. Setiap seminaris tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri saja, tetapi ia juga hadir dan ada bagi seminaris yang lain. Segala tindakan yang dilakukannya, entah baik atau kurang berkenan, pasti memiliki dampak bagi seminaris lain. Proses pembentukan diri juga terjadi berkat bantuan dan dukungan di antara mereka.

Pertemuan pertama kami awali dengan menonton film animasi Moana. Film keluaranWalt Disney Animation Studiotahun 2016 dan disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker ini mengangkat cerita rakyat dari wilayah Polinesia. Film Moana berkisah tentang perjuangan Moana, anak kepala suku Motunoui bersama Maui, manusia setengah dewa dalam mengarungi latuan luas. Mereka berlayar untuk mengembalikan jantung Te Fiti (The Heart of Te Fiti), Ibu Bumi, yang sebelumnya dicuri oleh Maui dari Te Fiti. Jantung Te Fiti mesti dikembalikan untuk meredam amarah Te Fiti dan mengakhiri bencana global termasuk gagal panen yang dialami penduduk Motunoui. Moana menjalani tugas ini karena satu alasan utama. Ia telah dipilih oleh lautan (the ocean) sejak ia masih kecil untuk menjadi penyelamat.Singkat cerita, Moana dan Maui berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik. Bencana berakhir dan masyarakat Motunoui mengetahui takdir mereka adalah bangsa penjelajah samudera.

     Setelah menonton film para seminaris mulai berdiskusi dalam kelompok. Diskusi dilakukan dengan bantuan pertanyaan penuntun untuk membahas tentang tokoh-tokoh dalam film Moana beserta karakter baik dan buruk yang mereka miliki berdasarkan pengamatan atas film. Saya juga meminta mereka untuk memilih tokoh yang disukai dan tidak disukai beserta alasan mereka menyukai atau tidak menyukai tokoh tersebut. Hasil diskusi dalam kelompok akan dipresentasikan kepada seluruh anggota kelas.

Selama diskusi berlangsung, para seminaris menaati empat aturan yang disepakati bersama. Pertama, selama diskusi berlangsung mereka tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan argumen yang bermaksud menghina atau mengolok anggota kelompok. Kedua, siswa yang maju untuk memberikan presentasi adalah siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah tampil di hadapan teman-temannya. Ketiga, orang yang ditunjuk tersebut tidak boleh menolak. Menolak berarti membuang kesempatan untuk menjadi orang hebat dan tidak menghargai dukungan dari teman-teman dalam kelompok. Keempat, siapapun yang tampil untuk berbicara harus didengarkan oleh seluruh anggota kelas.

Setelah diskusi, tiga orang pertama maju ke depan kelas mewakili kelompok masing-masing. Ketiganya memberikan presentasi yang menarik. Film Moana diulas dalam tiga perspektif yang berbeda. Elaborasi kelompok mengenai film tidak sekadar menjawab pertanyaan penuntun. Mereka juga mengkonfrontasikan dan mengaitkan film tersebut dengan kehidupan sehari-hari di asrama dalam berbagai sudut pandang. Ada yang mengidolakan Moana karena komitmennya menjawabi panggilan Ocean untuk mengembalikan The Heart of Te Fiti. Ada juga yang megidolakan Maui karena sikapgentleman mengakui kesalahandan bersedia menebus kesalahan dengan cara menemani Moana mengembalikan The Heart of Te Fiti. Ada juga yang mengidolakan Heihei, ayam konyol teman setia Moana sepanjang perjalanan bertemu Te Fiti. Alasan mereka sederhana, dalam kehidupan bersama di asrama dibutuhkan komitmen seperti Moana. Jika melakukan kesalahan mereka dapat bertindak seperti Maui Mereka juga dapat menjadi penghibur seperti Heihei bagi teman-teman yang mengalami kesulitan, meskipun mereka harus terlihat konyol.

Setelah tiga perwakilan kelompok tersebut, saya menunjuk ke kelompok selanjutnya. Kelompok ini berdiskusi di pojok kelas. Berbeda dengan kelompok lain yang terlihat sibuk ketika berdiskusi bahkan sampai beradu argumen, kelompok ini tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Suara mereka  tertutup oleh suara kelompok lain. Aktivitas diskusi yang mereka lakukan terlihat biasa saja. Lalu mereka mengutus dia yang duduk di pojok untuk memberikan presentasi.

Ia masih berbicara dengan suara bergetar. Saya terus mendengarkan presentasinya sambil mencoba meraba alur pemikiran yang ditawarkan. Sekali lagi, kelompok ini hadir dengan cara pandang yang berbeda dengan tiga kelompok sebelumnya. Pada pertengahan presentasinya aku terkesiap. Sudut pandang yang ditawarkan oleh kelompok ini istimewa. Mereka bukan hanya membahas film Moana. Film fantasi yang diadaptasi dari cerita rakyat Polinesia itu juga dikaitkan dengan perikop kitab suci yang dibacakan pada perayaan Ekaristi pagi hari itu, Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk. 15: 1-3, 11-32). Perumpamaan ini khas pengarang Lukas. Pada injil sinoptik lain tidak ditemukan kisah serupa. Lukas menggambarkan dinamika relasi antara Allah dengan manusia dalam injilnya dengan begitu menarik. Allah hadir dalam pribadi Bapa dengan sifat maharahimNya yang tidak terbatas dan karakter manusia dengan segala dinamika keterbatasan dan kesadarannya terwakili pada diri anak bungsu dan anak sulung. Ia membacakan hasil diskusi dalam kelompok.

Injil pada hari ini berkisah tentang Yesus yang menceritakan perumpamaan tentang anak yang hilang kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Kisah ini berbicara tentang relasi Ayah dan Anak. Ayah dalam Injil sama dengan Te Fiti dalam Film. Mereka adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya. Maui dalam film seperti anak bungsu dalam Injil. Maui mencuri hati Te Fiti. Ia mengkhianati Te Fiti yang memberikan kehidupan bagi dunia. Anak bungsu meminta warisan ketika ayahnya masih hidup. Akhir kisah anak Bungsu dan Maui sama. Keduanya berlumur penyesalan dan rasa malu.

Moana adalah harapan untuk kembali. Ia menjadi jalan bagi Maui untuk kembali berdamai dengan Te Fiti, Sang Pemilik kehidupan. Ia menjadi jalan bagi Maui untuk secara gentleman mengakui kesalahan yang telah dibuat. Satu hal yang membuat anak bungsu dalam injil kembali adalah harapan akan pengampunan. Reaksi Te Fiti serupa dengan reaksi Bapa dalam Injil. Ia tidak menghukum anaknya yang berbuat salah tetapi mengampuninya. Bahkan bagi anak bungsu dibuatkan pesta yang besar. Maui mendapatkan pancing ajaib baru dari Te Fiti setelah pancing ajaibnya yang lama rusak ketika bertempur melawan Te Ka.

     Selalu ada jalan untuk memperbaiki kesalahan. Selalu ada kesempatan untuk bertobat dari kesalahan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Kelemahan manusia adalah selalu jatuh dalam dosa dan kesalahan. Akan tetapi, Allah menganugerahkan kepadanya budi baru sehingga ia dapat selalu bertobat dan menyadari kesalahannya. Masa prapaskah ini adalah jalan bagi kita sebagai seminaris untuk kembali kepada Allah. Memperbaiki hubungan yang telah rusak karena kesalahan yang telah kita perbuat”

Ruangan kelas diliputi keheningan. Suara-suara cibiran ketika ia mengaitkan film Moana, perumpamaan tentanganak yang hilang, masa prapaskah, dan hidup sebagai seminaris lenyap. Presentasinya telah membius kami semua. Aku terkesima mendengar presentasinya. Ide yang ditawarkan luar biasa. Kelompok ini mampu melihat adanya kesamaan dalam empat situasi yang berbeda dan mengaitkannya dengan apik. Film bukan sekadar hiburan bagi mereka tetapi mengandung nilai-nilai yang dapat menyentuh aspek personal kehidupan mereka. Sekarang, giliran dirinya menatap seluruh penghuni kelas. Setelah sepersekian detik takjub kami mengapresiasi presentasi itu dengan tepuk tangan keras. Ia kembali ke tempat duduk sambil tersipu malu.

Aku keluar ruangan kelas sambil tersenyum kecil. Proses pembelajaran yang baru saja kami lakukan mengungkap banyak hal. Para seminaris cilik ini telah memahami makna pengalaman. Pada setiap pengalaman yang mereka dapatkan di seminari terpendam nilai-nilai kehidupan. Mereka sendiri yang menemukan nilai-nilai itu dan saling berbagi satu dengan yang lain, dimulai dalam ruang kelas. Film hanyastimulan, membantu mereka untuk berimajinasi, berpikir, dan merenungkan kehidupan mereka sendiri, menemukan nilai-nilai kehidupan, menyadarinya, dan perlahan-lahan menghayatinya. Para seminaris cilik ini menunjukkan potensi diri yang luar biasa dibalik kesahajaan hidup sehari-hari.

Mereka belajar saling mendukung satu sama lain dengan berbagi pikiran dan refleksi. Mereka mendukung temannya yang jarang tampil untuk presentasi dengan cara memberi kepercayaan kepadanya. Ia diberi kepercayaan untuk tampil dan seluruh anggota kelas setia mendengarkan presentasinya. Setelah presentasi teman-teman mengapresiasinya dengan tepukan tangan. Sebuah tindakan kecil tetapi sangat berharga bagi orang yang diberi kepercayaan karena dirinya merasa dihargai dan didukung.

Aku keluar dari ruang kelas dengan suatu niat. Para seminaris cilik ini memendam harta berharga pada dirinya. Harta itu harus ditemukan dan dikembangkan agar berguna bagi banyak orang. Agar mereka dapat bertumbuh dan berkembang secara utuh serta bahagia menjadi manusia dan ketika dipanggil menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan.

Sdr. Rio Edison, OFM

TOPER

MENYATUKAN HATI DEMI PENDIDIKAN CALON IMAM

            Temu orangtua seminaris dengan para formator Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu Mataloko berlangsung hari Minggu (4/2/2018). Kegiatan seharian itu diawali Ibadat Sabda oleh Fr. Ces Djo, lalu tatap muka bersama Rm. Praeses di kapela SMA, dilanjutkan dengan pembicaraan terpisah para orangtua seminaris SMP bersama tim prefek (pamong) SMP di Aula Rekreasi SMP, dan para orangtua seminaris SMA bersama tim prefek SMA di Ruang Musik SMA. Tampil pula paduan suara Berkhmawan menghibur para orangtua.

            Di hadapan ratusan orangtua seminaris yang memenuhi kapela SMA, Rm. Gabriel Idrus, Pr, Praeses Seminari, mengungkapkan terima kasih yang tulus karena para orangtua berkerelaan hadir pada Hari Orangtua Seminaris (HOS) tahun ini. “Bapak Uskup memandang HOS sebagai wujud konkrit tanggungjawab gereja terhadap pendidikan calon imam, dan gereja adalah kita semua. Terima kasih atas kehadiran bapak/ibu”.

            Selanjutnya, Rm. Idrus kembali menegaskan tujuan berdirinya seminari. Dikatakannya, seminari ini ada karena gereja membutuhkan imam. Imam yang dibutuhkan adalah imam yang mampu menghadirkan Kristus sebagai Imam Agung, yang mampu menjalankan tugas imamat yakni sebagai nabi yang mewartakan, gembala yang memimpin, dan imam yang menguduskan. Imam-imam seperti ini mempunyai tuntutan kerohanian yang khas, dan habitus yang khas, dan untuk itulah seminari didirikan. “Seminari didirikan karena keharusan misioner, bukan karena selera manusiawi. Aturan-aturan yang ada diciptakan agar 5 S (sanctitas, scientia, sapientia, sanitas, socialitas) berkembang menjadi habitus dalam diri calon imam”, katanya.

Rumah Pengkaderan

Secara singkat Rm. Idrus mengangkat kembali pembicaraan Bapak Uskup Agung Ende, Mgr. Vincensius Sensi Potokota, pada kegiatan HOS tahun 2016 lalu.

“Menarik sekali, saat itu Bapak Uskup berbicara tentang seminari ini sebagai rumah pengkaderan, tentu dengan tujuan agar para siswa kita kelak dapat menjadi imam yang tangguh”, papar Rm. Idrus. Ia menyebutkan beberapa hal yang disampaikan Bapak Uskup saat HOS itu.

            Pertama, sebagai lembaga pengkaderan, orang tidak bisa datang ke seminari dengan motivasi setengah-setengah. “Kalau sekedar cari ilmu atau keterampilan, di mana-mana bisa” tambahnya, meniru ucapan Uskup. “Pengiriman anak ke seminari, karena itu, tidak bisa dilakukan dengan motivasi, ‘kami titip anak ke seminari – siapa tahu Tuhan pilih’. Dari awal motivasi mestinya sudah harus dipertegas, diperbarui. Identitas itu harus tegas dan jelas. Para siswa harus sudah mencintai identitas itu sejak awal, itu pesan Bapak Uskup”.

Rm. Idrus meminta para orangtua bahu-membahu membantu agar sejak awal anak-anak mencintai panggilannya, misalnya, dengan terus mendorong anak-anak menghayati 5 S dalam hidupnya melalui kerelaan mengikuti pedoman dan aturan hidup yang sudah teruji dari waktu ke waktu. “Kita semua diminta mendukung dengan segenap hati, bukan dengan setengah hati, apalagi dengan motivasi-motivasi tersembunyi, yang membuat anak-anak kita tergoda untuk menghayati identitas ganda: di muka umum dia pura-pura menjadi calon imam, di belakang-belakang secara sembunyi-sembunyi dia menghayati hidup seakan-akan bukan sebagai calon imam”, tegas Rm. Idrus.

Kedua, Rm. Idrus menyampaikan harapan Bapak Uskup agar para orangtua mempercayakan anak-anak kepada para formator seminari dengan sepenuh hati, dari lubuk hati. “Berkali-kali Bapak Uskup meminta agar kepercayaan diberikan dari lubuk hati karena di dalam lubuk hati ada kasih-sayang, ada tanggungjawab, ada nurani, ada suara kehendak Tuhan”, tambahnya. Keputusan-keputusan yang diambil di seminari, lanjutnya, tidak berdasarkan suka atau tidak suka, tetapi sudah digariskan dalam pedoman yang jelas. “Namun agar semuanya bisa berjalan dengan baik, perlu ada tanggungjawab bersama. Dalam kata-kata Bapak Uskup, tidak usah merusakkan anak-anak dengan kasih-sayang yang tidak benar, yang tidak nyambung, kasih sayang yang memanjakan”.

Dalam perbincangan dengan masing-masing prefek/pamong banyak dibicarakan tentang kehidupan para siswa di asrama, agar ada pengertian dan tanggungjawab bersama untuk merawat panggilan dan menumbuhkembangkan kepribadian anak.

Usai pertemuan dengan para formator, para orangtua berkesempatan bercengkerama dengan anak-anaknya, sambil menikmati makan siang bersama.

HOS tahun ini adalah kegiatan ketiga kalinya sejak pertama kali dilaksanakan tahun 2015 silam. Kegiatan ini diagendakan sebagai momen tahunan (Nani).